Apr 1, 2017

Sikap (2)

Pelajaran soal sikap juga kudapetin dari pengalaman pribadi. Lokasi di rumah sendiri, waktunya kesekarangan. Soalnya masih berlangsung sih. Tokohnya ada si Aku yang punya sudut pandang orang pertama yang serba (ngerasa) tahu, si Mama, dan si Ayah.

Pengalaman pribadi akan dituangkan dalam sebuah tulisan berikut ini:

Belum sampai seminggu yang lalu kudapati ada tulisan besar terpampang depan rumahku yang buatku tercengang. Juga dalam waktu yang bersamaan kudapati Mama yang sama kagetnya. Oh, ini bukan idenya?

Tulisan yang membuat kaget dan ukurannya cukup besar ini belum ada saat kami berdua meninggalkan rumah sekitar 6 jam sebelumnya. Rumahku tidak dijual, maka bukan tulisan "DIJUAL" serta nomor telepon orang yang bisa dikontak yang ada. Bukan pula "RUMAH INI DISITA" karena tulang punggung kami, Ayah, adalah pria jujur yang selalu punya izzah sehingga beliau tidak akan memiliki tindak tanduk mencari rezeki berupa harta duniawi yang tidak berkah. Keluarga kami juga tidak punya masalah dengan anak tetangga sehingga bukan tulisan hasil vandalisme dari pilox yang terpampang. Ayahku suka olahraga, suka sepakbola tapi bukan tulisan The Jak yang ada meski pagar rumah kami berwarna jingga.

Tulisan itu berupa kalimat-kalimat yang tegas. Yang menyatakan bahwa program Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan Kartu Jakarta Pintar (KJP) bukan didanai oleh Gubernur perseorangan. Itu program yang dirancang oleh pemerintah yang tentunya bukan eksekutif saja. Di kalimat terakhir, terpampang juga kalimat yang menegaskan bahwa muslim tidak diperkenankan memilih pemimpin nonmuslim. Di bagian paling bawah, ada pula tulisan "Posko Warga".

w
a
d
u
h

s
u
n
g
g
u
h

m e n c e n g a n g k a n!

grrr.

(HAHAHA ih kesel nulis kayak gitu.)

Siapa yang dengan sadar penuh memajang tulisan ini tepat di rumahku?

Aku dan Mama mulai membuka pagar dan mengucapkan salam. Kami temui si Bapak Kepala Rumah Tangga bermuka tegas yang menyambut kami dengan membukakan pintu. Lalu, mulutnya tergerak melantunkan ayat suci yang sedang dihafalnya.

Memangnya kita perlu siaran macam itu?

Bukan keharusan. Tetapi, apa salah kalau begitu?

Pertanyaanku terjawab lewat wajah tegas Ayahku, juga lewat rentetan hal yang pernah dijelaskan. Biar orang membaca. Toh, si kalimat-kalimat itu tak akan lelah dipajang begitu. Menggantikan peran manusia yang banyak lelahnya ketika mencoba menyampaikan argumennya.

Ini yang namanya sikap.
Sikap bahwa kita tidak mendukung pemimpin nonmuslim karena kita muslim. Sikap bahwa kita meyakini kehidupan seorang muslim diatur dalam kitab Al-Quran. Sikap bahwa keyakinan itu bukan sekadar penghias KTP. Sikap bahwa kita percaya kalau janji Allah nyata. Sikap bahwa ada kekecewaan karena nyatanya total suara untuk calon nonmuslim lebih tinggi di wilayah yang memiliki banyak ulama. Sikap bahwa kita sama-sama harus saling peduli. Sikap bahwa mengingatkan itu perlu. Sikap bahwa kita sadar manusia banyak lupanya. Sikap bahwa sebagai manusia kita tidak dilabeli oleh jabatan apa pun. Sikap bahwa kita menerima kodrat menjadi manusia yang hanya mau dilabeli sebagai hamba Tuhan.

"Tapi, aku hamba Tuhan yang spesial! Aku punya kekuasaan mengatur hidupku bahkan hidup orang lain. Karena aku spesial!"

Spesial? Begini maksudmu?
Mungkin kamu orang terpintar di kelasmu. Mungkin kamu orang paling cakap di universitas. Mungkin kamu paling jago dagang di Jawa  Barat. Mungkin kamu terkaya di Eropa. Sadar kah bahwa wilayah tertentu membatasi labelmu? Bahwa titel yang dibubuhi "di dunia" juga membatasi labelmu. Ada kah yang lebih mendasar?

***

"Apa agama bagimu?"
"Landasan hidup"
"Lalu, apa benar salah bagimu?"
"Belum tahu."
"Apa agama bagimu?"
"Kubilang landasan hidup"
"Lalu, apa benar salah bagimu?"
"Hmm, kemanusiaan"
"Bagaimana manusia bagimu?"
"Sepertiku, tersusun dari segala abstraksi"
"Lalu, bagaimana benar salah bagi manusia?
"Berbeda-beda"
"Jelaskan"
"Tergantung situasi"
"Dimana kebenaran mutlak?"
"Tidak ada."
"Apa agama bagimu?"
"Landasan hidup"
"Apa landasan hidup bagimu? Penghias KTP?"
"Ah! Capek, kolot!"

***

Kupikir kita tahu caranya menjadi pintar saat kita punya pilihan. Saat kamu memilih masuk ke jurusan Teknologi Pangan, kupikir kamu menyadari bahwa buku Toledo bisa buatmu dapat nilai A di sejumlah SKS. Saat kamu memilih naik kereta dibandingkan bus ke Yogya, kupikir kamu menyadari bahwa kamu tidak akan berhenti di SPBU untuk sekadar ke toilet maka kamu harus ikuti aturan tata tertib kereta saat kamu kena panggilan alam di pagi hari. Bukan kah kita punya aturan saat memilih sesuatu?

Maka, apakah menurutmu orang-orang yang memilih menaati aturan landasan hidupnya salah?

Kupikir kita bukan sekadar pemilih toilet. Kita manusia.

Belajar menjadi manusia yang meyakini punya landasan hidup,
Si Aku.

HayahAfifah | 2008-2017