May 17, 2026

Peluk-peluk Bayi Flu yang Kalau Tidur Maunya Dipangku



Ditulis sambil duduk bersandar pada teralis besi jendela kamar, sembari pangku bayiku yang sejak kemarin rewel akibat lendir yang ganggu jalur napasnya.


Hihi, nyaman, rasanya hangat banget, Sayang.

Kepala kamu yang menempel pada dadaku itu candu sekali.

Aku bisa endus-endus wanginya sabun yang sekaligus kujadikan shampoo sisa mandi sesi pagi tadi.

Padahal kita sudah mandi sore juga, tetapi rambutmu nggak dicuci karena aku takut kamu kedinginan.

Grok grok grok, begitu napasmu sesekali.

Bibirmu yang segitiga terbuka, menganga kecil, mengompensasi udara yang susah kalau dihirup dari hidung.

Lewat celah bibir itu kelihatan dua gigi barumu di rahang atas mulai mencuat menembus gusi yang bikin kamu uring-uringan kombo sejak semalam.


Sesi makan pagi dan makan siang hari ini harus aku akui nggak mudah. Tapi jauh lebih aku syukuri dibanding sesi semalam. Kami, orangtuamu harus jadi badutdutdut, sembari aku bersungut, supaya kamu sadar nggak sadar sedang disuapi makanan.


Aku mau kamu cukup makan, cukup kalori, cukup nutrisi, supaya lekas-lekas bugar kembali. Tapi, ya, itu, maaf kalau disertai —-capcipcup dumbababem2x dideda2x—merengut dan kesal sedikit. 


Jujur, nggak ada niatan bikin kamu kesal, sedih, atau pun mengekspresikan konfrontasi dan gertak galak seakan kami punya status quo sebagai orangtua. Kami cuma mau kamu cukup makan. Mau kamuuuuu sehat lekas-lekas.


Dear sayangku cintaku manisku,

Kembali sehat, kembali riang!

Haya/Afi| 2008-2022