Nov 22, 2017

Sebuah Manifestasi Rindu

Beberapa hal indah yang secara eksplisit terjadi pada saya dalam waktu dekat:

1. Kumpulan data yang membuat saya mengangguk yakin kalau saya mau berkontribusi in-farm sebagai salah satu wujud penghambaan saya pada Yang Maha Pencipta dan Pemilik Alam.

2. Serial Genius yang diadaptasi dari buku Einstein:His Life and Universe. Sepuluh episode yang buat saya jadi tahu "pos-pos" hidup orang yang sangat genuine ini. Terima kasih kepada Pencipta Semesta karena cerita macam ini bisa jadi salah satu ayat kauniyah bagi saya yang sedang dalam perjalanan pulang.

3. Kakak yang sudah satu tahap lebih dekat pada rumah tangga. Sungguh, senang sekali karena saya merasa ada banyak kebaikan yang menunggu ditunaikan.

4. Lagu-lagu ciptaan Sabrang a.k.a Noe Letto yang subhanallah indah sekali. Saya juga jadi optimis bahwa orang-orang berbenak indah masih banyak dan masih mungkin bermunculan. Semoga kasih sayang Allah dalam wujud akhlak baik makhluknya bisa saya rasakan lekat-lekat.

5. Kenyataan bahwa saya tinggal dua bulan lagi untuk sampai bertemu dengan keluarga. Semoga masih diberi umur, ya? Uh, rindu!

6. Laboratorium serasa milik pribadi yang sukses menjadi lahan belajar banyak hal. Apalah itu amplifikasi DNA, yang pasti ia salah satu tanda kekuasaanNya.
.
.
.
.
.
.
Oh ya, tentang rindu.
Sabrang bilang, cinta adalah manifestasi dari rindu. Saya kira awalnya dia luput dalam menuturkan secara sistematis. Terbalik, bukan?

Tapi ternyata saya yang belum memahami maksudnya. Sabrang bilang, kita pernah sedekat itu dengan Pemilik Kita, dengan Sandaran Hati yang tak lain tak bukan adalah dua judul syair buatannya. Peristiwa itu lalu jadi momen paling kita rindukan sepanjang jalan kita kembali kepadaNya.

Maka, dalam keluarga ada cinta yang mengingatkan kita pada salah satu ke-Maha-anNya.

Maka, dalam persahabatan ada cinta yang mengingatkan kita pada salah satu ke-Maha-anNya.

Bukan kah semesta bekerja dengan suatu cara yang analog antara skala satu dan skala yang jauh lebih besar?

Ah, indah sekali.

Dingin,
Afi Wiyono.

Nov 17, 2017

Eh, Ngapain di Sini?

Soalnya gini.
Kadang aku jadi mikir.
Jangan-jangan selama ini hidupku isinya bertele-tele saja.
Telenovela.
Ditanya apa, jawabnya anu.
Ditanya anu, jawabnya bingung.
Apa iya, selama ini aku pernah benar dalam menjawab?
"Boleh diulang nggak pertanyaannya?"
.
.
.
Me on finishing "Jelasin kenapa air yang dikonsumsi sektor pertanian hampir 70% dari alokasi!"
Jawab: Soalnya aku sukanya ikan.

Hffff, semoga seorang Afi bisa mengalokasikan dan mendayagunakan potensi berpikirnya lebih baik dari waktu ke waktu. Anyway, serial Genius bagus sekali. Dagdigdug aku nontonin manusia yang egonya selalu besar. Soalnya adaptasi dari kehidupan nyata sih. Skenario buatan-Nya ituloh, nggak ada tandingannya.
HayahAfifah | 2008-2017