Feb 21, 2012

Subjektif

Ada 2 orang, sebut saja A dan B.
Keduanya beteman baik sejak setahun yang lalu. Si B tahu benar tentang si A, tetapi si A tidak peduli apapun mengenai B. Memang tipikal si A. Pembentukan wataknya memang sudah seperti itu dari sekolah dasar.
Tidak cuma dengan si B, si A memang suka berprilaku seenaknya dengan C, D, E, dan yang lainnya.

B adalah tipikal yang loyal dan menghargai perasaan temannya. Semua temannya.

A: Mau order yang model itu dong, B!
B: Boleh, mau yang warna apa?
A: *menunjuk sebuah warna*
B: Harganya segini ya
A: Wah ketinggian ah, ya walaupun gue tau lo jual ori sih tapi harga temen laah
B: Iyadeh harga temen, deal nih?
A: Deal! tapi gue gakbisa bayar cash nih
B: Gakpapa, nyicil aja, fleksibel ya. Nanti abis libur gue bawain ya, A
A: Yoi janji lo!

Malam sebelum barang itu dibawa si B hanya sekedar mengingatkan A untuk membawa uang cicilannya besok.

A: Gajadi beli ah, kakak gue gak suka warnanya

Super. Super gak tau diri. Kalau memang seperti itu keadaannya kenapa harus si B yang mengontak dia terlebih dahulu? Dan sepertinya si A telah membeli barang yang sama 2 minggu sebelumnya.

Padahal seminggu sebelumnya, seorang teman si B menawar dengan harga yang jauh lebih tinggi ditambah dengan pembayaran cash secara langsung. B yang memang loyal menolak penawaran tersebut karena menganggap A adalah teman baiknya dan tidak akan mengingkari janji.
Saya rasa wajar kalau B mencurahkan ceritanya kepada teman-teman lainnya. Ya, termasuk seseorang yang A sukai karena memang mereka sudah bersahabat lama.

Dan kemarin, saya dengar kata-kata A kepada B

A: Emangnya semua yang lo lakuin selalu bener apa?!

Saya tahu B mendengarnya tapi dia hanya tersenyum. Bukan senyum culas, licik, atau apapun itu. Hanya senyum menghargai dan berpura-pura tidak pernah mendengarnya.


Selamat, B.
Now you've got a lot of fans tho. No, no, not fans but rather admirers.

Selamat, A.
Now you've got stabbers.



Teman si B, tetapi bukan A
Afi Wiyono


bye♥
HayahAfifah | 2008-2017