Mar 15, 2013

I'm not trying to be cynical but a bit is all okay

Yeu I tweeted something which I necessarily did not intend to.
After all, I just want to say "I love you" for those who's been dragging me this far, till I'm feeling like most sentimental-being. You filled up my life -- my last minutes of my senior year, I won't forget this, perhaps.

Oke, setelah melakukan sekian lama observasi, which actually consists of permasalahan gak penting, akhirnya gue bisa megidentifikasi beberapa sifat dari orang-orang sekitar gue. Common matter yang sedang gue alami adalah mencari tahu bedanya being inspired dan copycating. Trust me, I'm not a cynical type, really. Gue bukan tipe sindir alus atau kasar kok orangnya, gue cuman tipe bikin sadar secara halus, doesn't it make sense? at least you're the one who would decide whether you are right or probably wrong. Jadi kalo lo agak tersindir saat membaca ini mungkin lo tipe orang yang gue mau bahas.

Jadi, ada orang. Mungkin gue terlalu yakin atau terlalu jelas terlihat ini orang kok agaknya menjadi seorang follower. Jadi di sini gue masih menggunakan kata follower karena kita belum menentukan apakah dia being inspired oleh orang sekitarnya atau dia copycating. Jadi, ada style temennya yang dia curi. Mungkin dia gak sadar-sadar banget karena menurut gue ini sih udah kebiasaannya. Kalau diperhatikan, cara dia ngambil style temennya adalah dengan melakukan stalking. I've ever been there, really. Gue pernah stalk orang bahkan sering tapi gue gak ngambil gaya orang itu, really.

Mulai dari apa yang temennya lakukan, dia lakukan. Apa yang temennya beli, dia ikut beli. Apa yang temennya tweet, dia ikutan ngetweet yang sejenis. Apa yang temennya lagi suka, dia coba untuk suka. Bentar deh, kalo menurut gue ini menjurus ke social climber. Jadi inget tentang bahasan ini sempet in juga di perbincangan gue dan Vena sewaktu kelas 11 LOL. Dipersingkat deh, menurut gue dia seorang copycat. She wasn't being inspired.

Menurut gue, opini loh ini, kalo orang yang terinspirasi atau terilhami, dia akan menulis subjek yang telah mengilhami dia itu, tersirat atau tersurat bebas deh. Loh, yaiya dong. Kalo dia merasa dia terinspirasi, dia agaknya bangga sama si subjek itu dan probably mau share ke orang lain. Nah kalo yang kayak temen gue lakukan itu kayaknya menjurus ke copycating. Dia gak terang-terangan pengen nunjukin kalo itu style dia temuin sendiri. Bahkan, kadang orang yang mengopi gaya orang lain akan gak percaya diri saat orang yang dia ikutin itu ada di hadapannya. Maksudnya di hadapannya adalah ya secara langsung atau gak langsung ya, bisa dua-duanya, bebas.

Oh ya, once again, I'm not a cynical person. Kalo bahasa gaulnya sih, I don't give a damn buat orang-orang yang suka mengopi gaya orang lain. Toh, pada akhirnya you decide what you wanna be. Suka-suka deh mau jadi orang yang kayak gimana, soalnya orang itu juga gak pernah tuh nyuruh gue untuk menjadi begini atau begitu.

Cuman, yang jadi masalah (atau gak masalah sama sekali) adalah, apa gak sayang waktu lo cuman kebuang buat ngikutin gaya orang lain? Apa lo gak mau mengeksplor diri lo lebih jauh?


Kalo kata sepotong larik yang lumayan menginspirasi gue sih:
You can get what you want or you can just get old
Jangan deh sampe ngabisin waktu lo cuman buat ngikutin gaya orang. Yakin deh diri lo bisa jadi lebih baik dari sekedar menjiplak. Satu lagi, ayah gue selalu bilang, produk imitasi gak akan pernah bisa lebih unggul. Jadi, lebih baik menjadi unggulan dengan suatu daya tarik yang menjadi ciri khas lo. Waktu itu sih gue lagi ngebahas tentang rsbi sama ayah wakakak ya bisa lah disambungin sama masalah beginian



Afi Wiyono.


HayahAfifah | 2008-2017