Nov 25, 2013

Surat untuk Afi

Sekarang saya lagi di atas kasur tingkat 2, as well kasur kesayangan di asrama A2 TPB IPB. Hmm, good to be back! Setelah seminggu full bermalam di kosan Kamil gegara plafon--how to spell it, eh?--jebol akibat aksi binal 2 kucing yang bercengkrama, kamar 228 ini jadi gudang selama hampir seminggu. Semuanya mengungsi, saya ke kosan, Zia dan Silmi ke kamar 222, Putri ke kamar 227. Terlalu malas rasanya membersihkan semua debu yang ada.

Sialnya, kenapa harus plafon yang tepat di atas kasur saya sih, Kucing???? Terima kasih banyak ya. Curious enough to know what messes they had made? Tell me if so, saya punya memorabilianya hiks. Tapi saya gak mau membahas itu kok, what comes around (dan gak ngenakin) biarlah berlalu.

Saya lagi baca buku yang saya beli di emperan Gudang Buku dekat Kantin Sapta. Belinya sih Selasa lalu, tapi bungkusnya baru aja dibuka. Ho oh, iya, ini buku sepuluh ribuan yang kontennya agak-agak senseless hiks, but for killing times, I know kok, ini worth it. Saya lagi baca buku tentang dokter yang hidupnya agak diambang kewajaran (terlepas dari karakternya yang semi-perfeksionis) judulnya "Metamorphosis" karya Meta Hanindita. Saya senang aja gitu karena masih ada dokter yang suka berkelakuan kopong (this is my word of the week! I'm feeling kopong lately). Okay, mereka memang manusia juga kok, kita-kita aja yang selalu menganggap mereka yang jadi dokter, yang lolos tes FK adalah manusia super. They are not. Mereka biasa. Tapi mereka memang berusaha. Once again, biasa. Gak ada manusia yang diciptakan terlalu spesial, rasanya. Semua diciptakan impas, paket lengkap kelebihan+kekurangan.

Judul ketujuh dari bab 1 menarik perhatian saya. Gak usah berlebihan, saya orangnya emang terlalu cepat impressed sayangnya. "A Letter for Me" was written. Jadi di sini posisi Meta yang sudah jadi dokter agak-agak menyesali masa SMA-nya dulu. Why??? Beli bukunya sendiri yah :p gakdeng, saya kasih tau sedikit ya. Jadi, emang dari kecil Mbak Meta (budaya orang Indo, membubuhi mbak/mas di awal nama orang) ini perfeksionis. Segalanya musti sempurna terutama masalah nilai. 100. 100. 100. Kalau 96 berarti 4 poin hilang dan harus dipertanyakan kemana. Sampai-sampai sewaktu SMA ikut 3 bimbingan belajar. Pokoknya begitu banget deh, apa-apa pelajaran, hidupnya jauh dari kesan 'nakal'. Tapi pada akhirnya dia juga gak pengen mengulang masa-masa itu untuk jadi pribadi yang lain. Cuman pengin ngasih surat ke dirinya yang lalu.

Kalau begitu, saya juga mau bikin surat untuk diri sendiri. Kamu?


P.s. Untuk Afi, jangan kopong. Surat untuk kamu ada di kertas paling wangi di antara tumpukan resume sosiologi umum.

Luvluv,
The older-you
Powered by Telkomsel BlackBerry®

HayahAfifah | 2008-2017