Dec 27, 2014

Repetisi

Saya masih di Modul 5: Glikolisis.
Round, round , and round. Bosan kah?

Saat saya di tingkat akhir SMA, glikolisis dan serangkaian jalur lanjutannya yang ditentukan oleh keberadaan oksigen lah yang berhasil membuat saya supermalas belajar Biologi. Gila lah, saya mulai berani mengambil keputusan untuk merelakan senyawa-senyawa yang namanya mirip beserta enzim yang ambil peran dalam proses pemecahan glukosa. Saya benci menghafal. Saya bahkan benci mengerti. Saya ujian ulang.

Ah, tidak masalah.

Kembali lagi saya dipertemukan dengan serangkaian reaksi sintesis ATP serta proses degradasinya saat akan mempersiapkan tes masuk perguruan tinggi. Uh, ya sudah lagi lagi saya membaca materi glikolisis, siklus asam sitrat, dan rantai transpor elektron dari awal serta merta hanya untuk sekedar tahu. Toh, saat ada soal mengenai ketiganya saya tidak bisa menjawab dengan yakin. Laknat. Saya masih menolak untuk benar-benar mengerti. Ketidakyakinan saya mengerjakan soal-soal itu berhasil mengantar saya ke gerbang institut pertanian. Oh, selamat.

Semester 2 perkuliahan, saya sedikit terusik. Harus ya saya dipertemukan kembali dengan glikolisis dan kawanannya??? Uh, mengesalkan. Entah harus disyukuri atau justru dijadikan bahan evaluasi diri, saya orang yang cepat puas diri. Ya, silakan sana kamu komentari. Tapi bagi saya, tak perlu saya benar-benar paham apa yang akan terjadi dengan glukosa setelah dia berubah menjadi glukosa-6-fosfat. Atau mengapa harus ada pembayaran ATP sejumlah dua molekul pada tahapan akhir reaksi yang terjadi di sitoplasma ini? Atau bagaimana bisa ATP yang punya tiga molekul fosfat lebih suka melepas satu fosfatnya dan menjadi ADP? Sumpah saya tidak peduli. Yang penting, mata kuliah Biologi Umum di TPB bisa saya lewati.

Dan halo, semester tiga perkuliahan!
Jujur saya merasa kurang sukses dalam menjalani sesi kuliah sebelum ujian tengah semester. Beri salam hangat untuk mata kuliah Kimia Organik dan jangan lupa peluk dia erat-erat. Dia bedebah, hehe. Mau tidak mau ya harus dijalani. Tidak masalah sih kalau memang terpuruk, mungkin memang bukan porsi saya untuk menempati posisi sebagai Ahli Kimia Organik. Tuh kan, saya puas diri. Kamu yang jago, selamat ya!

Selain Kimia Organik, ada satu mata kuliah yang--entah mengapa--kembali mempersatukan saya dengan glikolisis dan rangkaiannya. Demi Tuhan, ini pertanda. Selamat ya, Afi. Belum cukup kah pertemuan-pertemuan ini membuat kamu sadar bahwa memang pemecahan glukosa serta sistem terkaitnya harus dipahami? Belum cukup, batin saya saat akan menghadapi ujian tengah semester Mikrobiologi Dasar. Oh ya sudah, selamat dibabat habis (lagi), ya.

Saya dibabat soal ujian kala itu. Tapi tidak sampai habis.
Ini Sabtu, dan saya masih di Modul 5:Glikolisis.
Senin besok saya akan kembali dipertemukan dengan kertas berisikan pertanyaan yang kira-kira memuat beberapa kata "glukosa", "ATP", "fosfofruktokinase", "TCA cycle", dan voila! Biokimia Pangan Dasar kembali menuntut saya untuk bermesra dengan materi-ini-lagi.

Sebenarnya saya mulai merasa nyaman. Mungkin ini karena salah satu mekanisme kerja sel-sel otak. Katanya, repetisi akan membuat segalanya terasa berangsur ringan. Membaca modul ini terasa tidak memberatkan. Ya, istilah-istilahnya sudah terpatri cukup lama di otak saya. Pun proses-proses yang terjadi, semuanya sudah pernah dipelajari. Jadi, dimana kuncinya?

Repetisi.
Dan tidak repetisi.

Iya. Tidak melakukan repetisi akan menjadikan kita lebih mudah melupakan. Repetisi di sini bisa diwujudkan dengan segala sesuatu yang membuat kita berinteraksi kembali. Ya, cara kerja otak saya dan otakmu memang diciptakan sedemikian rupa oleh Tuhan. Hal ini patut disyukuri karena kita tidak akan selalu merasa kesulitan lagi-lagi dan lagi. Round, round, and round. Ini lah yang terjadi pada saya dalam memahami glikolisis dan sebagainya.
Selamat berjuang, Afi dan Pejuang Tagguh! Selamat berjumpa kembali dengan glikolisis.








****
Aku sudah lupa setiap harapan tentangmu. Aku sudah lupa bahwa aku pernah berharap sesuatu. Tahu kah kamu? Repetisi sungguh tidak bekerja pada aku dan kamu. Tidak bekerja pada apa pun yang kita lakukan. Lalu kita terbiasa dan kita terlupa.

Mungkin Tuhan memang berkehendak begitu.


Sampai jumpa lagi,
Afi Wiyono

HayahAfifah | 2008-2017