Mar 14, 2015

Minyak Gorengmu, Bu.

Jadi begini, Bu. Saya lelah karena saya resah melulu. Namun sayang sekali saya lelah juga untuk berbuat banyak agar keresahan itu hilang. Saya masih belajar banyak untuk bangun dari kepayahan ini. Sumpah, Bu. Jangan marah dahulu karena yang Ibu lihat cuman seorang perempuan yang hampir habis masa remajanya. Remaja yang ini punya pesan untuk Ibu.

Oh iya, mungkin juga pertanyaan.
Bu, kenapa sih manusia lucu benar? Kenapa kita kerap terbuai keindahan semu yang jelas-jelas sengaja dibuat oleh sebagian dari kita yang lain? Menurut saya Ibu sangat cantik dengan hidung tidak mancung, beberapa jerawat di dahi, dan kerutan-kerutan itu. Ibu sangat cantik karena memiliki tubuh dengan indeks di atas 24. Ibu sempurna karena peduli banyak dengan orang sekitar terutama anak-anak.

Siapa orang itu yang dengan beraninya main menyisihkan Ibu ke golongan orang-orang yang tidak berpeluang menjadi model baju renang? Sungguh, meski ibu tidak benar-benar ingin jadi model baju renang, alasan dia menyisihkan Ibu kurang bisa diterima. Ibu hanya kurang 2cm agar masuk kriterianya. Lalu, Ibu sempat berpikir untuk mendegarkan musik penstimulasi hormon pertumbuhan agar lekas tinggi. Jujur, Bu saya baru tahu tentang penelitian itu. Sontak saya ingin tutup telinga agar tidak terstimulasi. Saya harap saya tidak tumbuh lebih tinggi lagi.

Sadarkah Ibu kalau kita berdua sesungguhnya melakukan hal yang sama? Sama-sama mencoba menuju keadaan 'normal'. Dimana rasa keterimaan manusia lain meningkat entah bagaimana mekanismenya. Standar. Nilai acuan mereka, Bu. Saya belum belajar filsafat, Bu. Saya asyik saja sama kesukaan saya, jadi mungkin saya sok tahu.

Ah, biarlah.
Sok tahu juga dalam skala Ibu, kan? Ibu juga punya standar yang saya tidak mengerti bagaimana dibentuknya.

Bu, mungkin perkara Ibu dan baju renang harus kita sudahi.
Saya mau bicara soal minyak goreng Ibu. Bu, kalau saja ada perusahaan minyak goreng yang mengklaim produknya sehat dengan penampakan minyak berwarna coklat pekat maukah ibu membelinya? Dia tawarkan produk itu dengan harga 15% di bawah harga minyak goreng dengan penampakan kuning bening yang difortifikasi vitamin A, maukah Ibu? Coba saya tebak, Ibu pasti berprasangka buruk. Buruk dalam skala saya kok, Bu. Bisa jadi prasangka itu tidak buruk bagi Ibu.

Jawab, Bu.
Kalau Ibu curiga produk itu adalah minyak goreng yang tidak murni atau bisa jadi bekas alias sudah pernah dipakai karena harganya yang murah, bagaimana kalau dia justru menjual dengan harga 15% di atas harga minyak goreng yang biasa Ibu beli? Tetap tidak mau karena merasa ditipu kah? Boleh, Bu. Keputusannya ada pada Ibu.

Ini pesan saya. Coba ibu cari tahu lebih jauh. Saya menduga perusahaan itu sedang tidak melakukan aksi kebohongan. Oleh karena itu, jangan sebarkan pesan provokatif kepada teman-teman Ibu bahwa sebuah perusahaan minyak goreng melakukan praktik bisnis yang busuk. Kembali ke dugaan saya. Saya menduga bahwa perusahaan minyak goreng itu sedang berusaha memberhentikan praktik impor vitamin A yang dilakukan oleh perusahaan minyak goreng lain.

Lagi-lagi keuntungan diraup mereka-mereka. Vitamin A seakan perkara kecil. Padahal ya lagi-lagi impor. Saya bocorkan sedikit faktanya. Pada awalnya, minyak yang akan diolah menjadi minyak goreng siap pakai berpenampakan jauh lebih pekat dari yang biasa ibu lihat. Bukan kuning, tapi cenderung merah bahkan coklat. Pekat seperti minyak yang telah beberapa kali dipakai untuk menggoreng bakwan. Mengapa begitu? Iya, Bu si Karoten senang berenang di sana. Ibu pernah dengar tentang betakaroten? Atau mungkin likopen? Mereka adalah antioksidan yang juga bisa kita temui di tomat dan wortel.

Ibu tahu kan vitamin apa yang ada pada wortel dan tomat? Iya, vitamin A dalam bentuk betakaroten, Bu. Saya rasa Ibu mulai bisa menarik benang merah tutur kata saya yang sedari tadi kurang jelas. Kalau belum jelas, beri saya beberapa waktu untuk kembali menjelaskan.

Ibu, industri minyak goreng paham benar kalau Ibu akan memilih minyak yang cenderung bening. Maka dari itu mereka mulai menghilangkan warna yang pekat itu. Dengan satuan operasi tertentu, si Karoten mulai tereduksi. Demi mata Ibu yang suka warna bening, Bu. Karoten bersama manfaatnya akhirnya hilang dari minyak goreng.

Bagi sebagian orang, hal ini adalah peluang bisnis baru. Fortifikasi vitamin A dilakukan. Dilakukan agar minyak goreng Ibu yang bening itu kembali mengandung betakaroten. Negeri kita belum mampu berdiri sendiri untuk memproduksi mereka, Bu. Impor vitamin A dilakukan. Entahlah, semu sekali siklus ini. 

Semua karena mata kita, Bu. Mata saya, mata Ibu, dan mata orang yang menyisihkan Ibu dari golongan orang-orang yang berpeluang menjadi model baju renang. Kita kembali mencipta skala 'normal'. Dimana kita kembali bertemu dengan suatu standar.

Manusia lucu ya, Bu?



Ditulis oleh seorang manusia,
Hampir habis masa remajanya,
Suka bertutur sesukanya,
Masih menikmati hidup,
Sedang membuat tulisan untuk si Ibu yang dia sendiri tidak tahu siapa,
Afi Wiyono.




HayahAfifah | 2008-2017