Nov 26, 2015

Think Anything



Oh I can't keep it in, I can't keep it in, I've gotta let it out.
I've got to show the world, world's got to see, see all the love
love that's in me. I said, why walk alone, why worry when it's
warm over here. You've got so much to say, say what you mean,
mean what you're thinking, and think anything.

//Can't Keep it In - Cat Stevens 



Menulis untuk diri sendiri itu menyenangkan. Karena rasanya seperti dual mode. Memberi orang lain persembahan berupa tulisan sekaligus dapat hadiah berupa tulisan. Senangnya dua kali lipat. Seakan bikin orang senang dan seakan dapat hadiah.

Itu kalau tulisannya menyenangkan.
Kalau nggak enak ya nggak menyenangkan.

Bagi saya yang mungkin sedang pada masa dimana pengaruh hormonal membelenggu pagi dan malam, menulis menjadi sangat penting. Karena perasaan yang nggak monoton ini sayang sekali untuk nggak didokumentasikan. Emosi yang sering kali berada di puncak, apa pun bentuknya, rasanya harus selalu dideskripsikan walaupun susah. Tapi lebih susah lagi untuk tetap diam dan nggak menuliskannya sama sekali.

Entah bagaimana takaran dalam psikologinya, saya selalu punya tendensi untuk lebih banyak menulis hal-hal yang menyedihkan, menyulitkan, menyakitkan, menyebalkan dibandingkan hal-hal yang menyenangkan. Saat hari-hari begitu lancar dengan segala kemudahan, saya tidak punya banyak hal untuk ditulis. Tapi ketika wajah ini muram dan hati ini geram, saya punya banyak hal, banyak diksi, banyak frasa untuk ditulis.

Hasilnya ya tulisan yang nggak mengenakkan.


Ah, kadang enak juga kok punya tulisan yang nggak mengenakkan. Kenapa coba?
Cari tahu sendiri saja. Selamat menulis


Dadah,
Afi Wiyono

HayahAfifah | 2008-2017