Nov 7, 2016

Sistem si Cibubur Squad

Kemarin aku menyisihkan beberapa waktu untuk kembali menapak pada rumput-rumput yang seharusnya tidak boleh diinjak. Biaya perawatan rumput lumayan juga, kata pihak pengelola taman. Terlebih lagi perawatan bunganya. Jadi wajar kalau banyak orang pergi ke Cipanas atau bahkan ke Lisse demi berpose dengan bunga. Toh, Cibubur sudah kehilangan banyak bunganya. Tapi Cibubur ini tetap indah, setidaknya bagiku. Kamu tahu kenapa?

Aku meyakini bahwa dunia ini merupakan sistem. Ia sistem karena ia terdiri dari banyak lingkup yang teramati. Ia punya tujuan. Ia dibatasi. Kamu tahu apa yang membatasi? Adalah hal yang tidak terdefinisi sama bagi tiap orang. Kamu tahu siapa yang membatasi? Aku. Kamu juga. Dan orang lain.

Cibubur tetap indah karena bagiku sistemnya tak terganggu meski bunga-bunga di taman tidak sebanyak taman di Cipanas. Meski angkutan kota nomor 79 kian jarang dan sama sekali tidak bisa diandalkan, Cibubur tetap menawan karena akses transportasi lain bertumbuh. Cibubur masih menyenangkan walau bakso di seberang Alfamart Jalan Taruna sering keasinan, karena masih ada gerai bakso lain di beberapa titik strategis.

Cibubur tetap terasa rumah meski ada subjek yang begitu keras kepala yang senangnya saling adu isi kepala yang di keluarkan via mulut ditambah dorongan tensi melalui pembuluh darah.

Seorang warga Cibubur kemarin lupa kalau dunia ini merupakan sistem. Dia bilang mengapa ada orang yang bangga saat kehendaknya terpenuhi dengan membuat orang lain merana. Hem, aku sempat terpana.

Mengapa? apa masalahmu, kataku.
Bertutur sembari menahan luapan air mata yang lebih dikarenakan kemarahan dibanding kesedihan, si Seorang Warga itu bilang:  "manusia dengan sifat seperti itu sepatutnya tidak bahagia saat kehendaknya terpenuhi. Apa yang membahagiakan saat paksaan jadi cara utama? Dia bangga? Dia senang?"

Aku yang duduk di sebelahnya dan mencoba tidak memalingkan muka sedikit pun kembali bertanya, memang ia inginnya seperti apa?

Dia mulai memalingkan muka. "Aku mau mereka mengerti. Seharusnya mereka mengerti!"

Lalu aku bingung mengapa ia justru memaksa? Bukan kah ia tahu saat subjek lain dengan terpaksa mengerti, ia tidak akan bahagia juga. Premis mana yang salah? Ah, entahlah. Kubilang saja. Dunia ini sistem, apa yang terjadi, apa yang teramati bagiku, bagimu, dan bagi subjek lain mungkin berbeda. Batasmu mungkin berbeda. Atau harus kutulis "pasti" berbeda.

Pada akhirnya semuanya semu saat berasal dari isi kepala. Dari batin manusia. Lalu, maukah kita mencari batas yang nyata?

Dia berhenti dan menyuruhku berhenti. "Aku mengapresiasi, tapi cukup untuk kali ini," katanya menyudahi.

Oh, baiklah.
Jadi, untuk saat ini kucoba saja sendiri dahulu mencari yang nyata itu. Tapi kata Ayahku, kita tak harus murni mencari karena kita sudah menemukan beberapa bagiannya. Kita hanya perlu menelusuri agar batas ini makin nyata terlihat bagi kita. Agar batas ini benar-benar yang menjadi pagar untuk sistem kita. Jangan dihilangkan.

Yang ingin menelusuri,
Yang butuh bantuan saat menelusuri,
Anak Cibubur.

HayahAfifah | 2008-2017