Jan 4, 2017

Terpotong Dalam

Sore ini kita begitu percaya diri bahwa akan berekreasi. Senang saja bawaannya karena tahu kita ditunggu si relaksasi. Tunggu, tulisan kali ini tidak dikehendaki untuk menjadi syair berima. Dikehendaki menjadi syair saja tidak sama sekali, apalagi berima. Lah, masa bodoh.

Ternyata, sore ini kita terdesain pada kondisi yang berpotensi menimbulkan emosi. Emosi yang cenderung destruktif untuk diri sendiri dan bagi kesimpulan hari secara umum. Begini mungkin: hari ini menyebalkan. Eh, ternyata tidak begitu. Kepala-kepala yang ikut dalam perjalanan tetap dingin. Sampai warung sate yang tidak menggiurkan pun tetap dingin kepala ini. Walaupun asap hasil pembakarannya menerpa seluruh wajah, tubuh, kita tidak mencoba mengelak.

Sampai malamnya, kita putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Rekreasi ditangguhkan sampai batas waktu tidak ditentukan. Lalu satu lagu terputar. Kata Yusuf: the first cut is the deepest, baby I know.

oh.
ya.

Aku baru sadar kita sedari awal ada untuk menyembuhkan. Rekreasi untuk mengobati. Tapi aku lupa bahwa aku yang sedang (dianggap) anfal. Yang terpotong dalam jika mengartikan apa yang Yusuf bilang secara harfiah (HAHA ko aneh)

Kok tidak terasa? bagus lah. Kalau aku pasien, mungkin aku termasuk yang tegar. Yang tidak mau diopname. Yang dibanding berbaring di kamar vvip secara cuma-cuma, akan memilih rawat jalan saja meski katanya boroknya belum kering. Atau bisa jadi memilih tidak memeriksakan diri ke dokter. Loh, pasien bukan namanya?

Tenang saja sih.

.
.
Terima kasih untuk banyak pelajaran juga bantuannya. Karenanya aku sembuh dan bertumbuh!

Kuharap semua pasien di dunia ini siap menolak untuk dirawat. Lah?

Mengantuk,
Afi Wiyono.

HayahAfifah | 2008-2017