Feb 22, 2017

Progress Report yang Tidak Sistematis

Menjadi dewasa itu harus kurasa. Mungkin memang benar kedewasaan bisa dinilai dari bagaimana seseorang mendapatkan asupan untuk dirinya.

Saat aku 3 tahun, aku senang disuapi saat makan. Ikan memang tidak pernah jadi perkara mudah. Terutama ikan bandeng. Tapi, makan ayam goreng pun aku disuapi saat itu. Ikan bandeng mungkin belum menjadi pilihan untuk anak seusiaku. Semoga Tuhanku membalas kebaikan Mamaku yang sabar sekali sejak dahulu menyuapiku dengan menu apa pun.

Saat aku 13 tahun, pecak ikan belanak pernah melukai jari jempol tangan kananku. Meski durinya tidak sporadis (wait, what? lol) seperti bandeng, ikan belanak yang pernah melukaiku meski tidak diniatkan itu menyumbang trauma. Aku tetap disuapi saat menu makan siangku di rumah Nenek adalah pecak ikan belanak. Satu porsi tidak cukup sih.

Saat aku 13 tahun juga, aku lebih ahli makan pindang bandeng dibanding kedua kakakku. Sampai sekarang. Mereka mungkin mundur sebelum mulai. C u p u. Nggak deng. Aku sudah mampu memilih. Tapi memilih yang sudah disajikan. Termasuk memilih menghabiskan otak, lidah, mata, dan urat-urat wajah kambing bersama Ayah. Aku juga juara dibanding kakakku untuk hal ini, sama seperti perihal pindang bandeng.

Saat aku 21 tahun, aku mulai memilih yang tidak disajikan di meja makan. Selain karena di rumah sewaku tidak ada meja makan, "kedewasaan"-ku mulai nampak. Ah, opini pribadi. Memang.

Aku mencari apa yang aku inginkan. Meski tidak selalu berujung terpuaskan, setidaknya ada usaha.
Ini baru soal makanan.

Perihal lain, kurasa juga begitu.

Aku ingat benar saat aku duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar, aku mulai belajar operasi hitung perkalian antara bilangan puluhan dengan bilangan puluhan. Ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dengan menuliskan cara menghitung 33x13. Sudah ada teknologi bernama kalkulator saat itu. Tapi, guruku ingin aku menuliskan operasinya dengan penjabaran bertahap.

Aku menuliskan soal itu di papan tulis di rumahku. Spidolnya berwarna biru, aku ingat sekali. Lalu, aku tanya kepada Mamaku. Selain tulus ikhlas mengajariku cara mengunyah makanan yang benar seperti sunnah nabi, Mamaku juga tulus ikhlas mengajariku berhitung. Jawabannya beliau tulis di papan tulis. Setelah itu, Ayahku ikut bergabung. Beliau menuliskan soal lain yang serupa untuk memastikan bahwa aku memang paham operasi hitung itu.

Aku paham.
Pemahaman yang kudapatkan sejak kelas 3 sekolah dasar itu tidak lantas membuatku menyingkirkan kalkulator untuk bermacam-macam perhitungan di hari ini. Tapi aku tetap paham.

Saat aku 14 tahun, Ayahku mengantarku ke sekolah baru, tingkat menengah atas. Katanya, sebagai siswa SMA, sudah sepatutnya 75% informasi diperoleh sendiri dan 25% dari tenaga pendidik (atau sekadar pengajar?). Aku angguk-angguk kepala saja. Padahal sih aku tidak paham benar maksudnya. Hingga aku lulus pada usia 17 tahun, aku tidak mengindahkan hal itu. Aku minim usaha dalam memenuhi kebutuhan informasiku. Atau setidaknya usahaku tidak mencapai 75%. Kebiasaan disuapi masih menghinggapiku.

Saat aku 21 tahun, ternyata aku baru tergerak untuk memenuhi sebagian besar informasi untuk diriku sendiri dengan usahaku. Turut berduka karena aku justru memasuki dunia "dewasa" saat statusku prematur. Padahal Ayahku sudah mewanti-wanti. Ada sesal kah?

Oh, tentu tidak.
Kita semua punya waktu berprogress. Sejatinya kita diberkahi. Progress atau--apa ya disebutnya--kemajuan adalah wujud keberkahan dari Yang Mahapemilik Ilmu Pengetahuan. Di usianya, Ayahku juga tetap berprogress. Mamaku juga tetap berprogress, wujud ikhlasnya bukan lagi sekadar menyuapiku ikan belanak. Keduanya tetap memfasilitasi apa yang dianggap aku butuhkan. Aku mulai menyadari pentingnya berprogress dengan usaha sendiri.

Bukan kah Dia sayang pada mereka yang selalu ingin berprogress?
Dia jelas buktikan sayang-Nya padaku saat hari pertama aku di bangku sekolah menengah atas. Dia buktikan dengan menyampaikan pesan itu lewat Ayahku. Jadi, apakah ini yang harus disesali?

Oh, tentu tidak.

***

Terima kasih atas kemudahan akses segala informasi, Tuhanku.
Terima kasih atas jawaban untuk segala pertanyaan, Tuhanku.

Anak yang ingin berprogress,
Afi Wiyono.


p.s. oh wow, blogku sekarang terlihat seperti website sejenis IKEA.
HayahAfifah | 2008-2017