May 7, 2017

Kepulangan Kucing dan Kehadiran Kamu

Aku pulang agak larut semalam. Kereta gerbong wanita yang lowong memang tidak pernah mengecewakan pada malam hari. Bekas hujan menambah nilai kepuasanku yang sedari pagi beraktivitas. Sudah kubilang kan kalau aku suka akhir pekan?

Tuhan memang begitu. Dia memberi saat kita meminta. Dengan cara paling romantis, Dia munculkan hadiah bertubi-tubi. Mau ini, mau itu, apa pun tidak dibatasi. Tidak pula dimarahi. Tidak pula dijauhi.

Aku minta waktu sejenak untuk mencerna dengan baik maksud-maksud pada tiap kejadian hari kemarin, Dia suguhi aku gerbong wanita yang lowong. Aku minta suasana yang menenangkan, Dia kirimkan rintik hujan. Maka, nikmat mana lagi yang kamu dustakan?

Sesampainya di rumah, aku rehat panjang. Toh, memang sudah waktunya beristirahat. Tuhan menciptakan malam untuk itu bukan?

Sesaat sebelum aku menutup mata, ibuku menghampiriku dan berkata, "kucingmu tidak ada sejak siang hari."

"Ah, biarlah mungkin dia malas bermalam di sini," ucapku lelah.

Mimpiku panjang. Selayaknya hari-hari sebelumnya saat aku padat beraktivitas, si mimpi jadi sebuah episode yang berisi narasi-narasi gabungan pada hari itu. Untung hariku menyenangkan, maka mimpiku pun begitu.

Ibuku terbiasa bangun pada sepertiga malam. Karena Tuhan suka waktu itu. Aku terbangun karena malam tadi aku tidur satu kasur dengannya.

"Kucingmu tidak kembali, mungkin sedang mencari tempat" kata ibuku. Kucingku memang sedang mengandung dan mungkin dalam waktu dekat akan melahirkan sejumlah kucing kecil yang merepotkan.

"Padahal sudah kusiapkan tempat. Tapi, biarlah. Siapa kita ingin mendiktenya?" ucapku yang menyadari manusia bukan tuan si Kucing.

Sepertiga malam berlanjut hingga pagi tanpa kehadiran si Kucing. Biasanya, si Kucing suka turut serta dalam aktivitas sepertiga malam ibuku. Dengan modal kepercayaan bahwa si Kucing baik-baik saja, kami membuang rasa cemas bahwa si Kucing hilang.

Pagi ini ada keributan di kamar kosong rumahku. Saat dibuka, berbagai barang jatuh dan tidak pada tempatnya. Aku bingung dan entah mengapa merasa takut sedikit. Sudah sepekan penuh kamar itu tidak ditempati siapa pun. Aku kesal karena sepagi ini harus membereskan kamar. Tiba-tiba, dengan tenang, si Kucing melenggang keluar kamar.

"?????????"

Si Kucing terkunci di kamar selama satu hari. Tidak mengeong, tidak minta dibukakan pintu. Mengapa terkunci juga aku tidak tahu. Bagaimana cerita sebenarnya aku juga tidak tahu. Yang pasti, dia asyik mengobrak-abrik kamar tanpa menyebabkan kebisingan. Hingga satu barang yang besar jatuh barulah terdeteksi ada sesuatu di kamar.

Kucing tenang. Aku heran. Tetapi, ya sudah. Modal kepercayaan bahwa si Kucing baik-baik saja termanfestasi seperti itu mungkin.

Si Kucing dan aku kembali menjadi baik-baik saja.

***
Aku punya modal kepercayaan bahwa kamu baik-baik saja. Kamu belum terdeteksi ada dimana. Belum juga menggaungkan atau menimbulkan suara ribut sedikit pun. Mungkin sih sudah mulai mengacak-mengacak sebuah ruangan. Mungkin juga memang masih mencari tempat. Tetapi, kuharap kisahku dan kamu sepeti aku dan si Kucing pada episode ini.

Modal awal berujung pada hal yang baik. Aku tidak mencari, namun dengan cara aneh dihadirkan. Tinggal meminta bukan? Karena Tuhan memang begitu. Dia memberi saat kita meminta.

HAHA.
DADAH.

lol,
Afi Wiyono.

HayahAfifah | 2008-2017