Baik itu awal karena memang awal, awal karena hanya dianggap begitu, atau pun memang bukan awal, boleh yah aku sampaikan satu kalimat tegas pada kesempatan ini? Begini ia ingin kutulis:
Aku adalah semampuku.
"Lha, tegas apanya? Malahan nggak jelas. EYDnya juga gimana tuh"
Hehe, sayangnya kalimat ini sudah kunobatkan akan menjadi teman pengingat pada beberapa kesempatan mendatang. Tepatnya kapan, aku pun belum tahu.
Ini wujud antisipasiku. Menyoal perlakuan burukku pada diri sendiri yang suka datang berkali-kali tanpa terpantik hal besar sekali pun, aku putuskan kalau sebuah kalimat tegas musti jadi temanku.
Kalau aku buruk pada suatu kondisi, ya aku perlu ingat "aku adalah semampuku", kalau memang buruk, itulah aku.
Kalau aku tidak mampu bertahan dan kembali takut pada hari esok, ya aku perlu ingat "aku adalah semampuku", sebesar itulah kekuatanku menahan.
Kalau aku kalah atas emosi negatif diri sendiri, ya aku perlu ingat "aku adalah semampuku", sehingga tidak perlu terlalu kaget jikalau ada wujud emosi yang kadang merugikan orang lain dengan kadar yang cukup tinggi.
Kalimatku terkesan seperti pembenaran dan pemaafan diri yah? Cenderung egois gitu, hehe. Ya, memang baru sebatas ini kemampuanku. Soalnya aku merasa akan lebih baik punya daya dan kuasa atas ketidakmampuan diri sendiri.
Perlakuan buruk pada diri sendiri selama ini selalu berujung membuatku menyesal. Pun selalu harus melewati fase "I should have been better". Jujur, melelahkan. Belum lagi harus dibubuhi tangisan yang membuat mata bengkak, napas tersengal, dan kelenjar tiroidku mengganjal. Duh!
Semoga perlakuan buruk enggan datang lagi yah. Atau berkurang frekuensinya. Atau kalau datang pun, ia tidak sekuat dahulu. Atau, ya sudah! Kalau dia mau datang selayaknya tahun sebelumnya, aku ingat "aku adalah semampuku!"
Itu lah aku.
Hehehehehehehe, egois deeeeeh.