Pandemi belum berakhir setelah diputuskan kalau sudah dimulai Pada 12 Maret 2020 lalu. Ada banyak hal terjadi termasuk soal cara menyikapi yang tentu saja wajar kalau sering berganti. Kita kikuk karena dunia berubah. Sayangnya, tidak sekali pun aku bisa bilang: "Tenang saja."
Aku sulit tenang. Apalagi saat harus keluar dari rumah. Pandemi menjadi momok buatku yang memang kurang mencari tahu tentangnya. Boro-boro mau menelusurinya, mendapat kabar dengan kata kunci corona atau covid-19 dari mulut orangtuaku saja aku spontan tidak mau menanggapi.
Kalut sekali aku dalam situasi ini. Padahal aku sama sekali tidak punya andil dan keharusan menjadi tameng pada episode sumbang kehidupan ini. Aku adalah objek pada kisah kali ini. Meskipun ayahku selalu bilang kenyataannya selama ini kita memang hanya 'merasa' menjadi subjek yang pura-pura punya kendali atas setiap tindakan, sih.
Aku menerima keberadaanku dengan segala logika, perasaan, dan perasaan yang dipaksa menjadi logis. Sesuai janjiku pada bulan satu: aku adalah semampuku. Kalau aku payah, ya aku terima.
Sungguh beruntung merasakan nikmat dilayani para tenaga kesehatan yang punya komitmen pada profesinya, juga para unit kerja yang harus menjadi barikade perlindungan masyarakat. Kalian layak dapat ganjaran terbaik yang tentu saja manusia tidak punya modal untuk membayarnya. Selamat menjadi manusia beruntung atas jasamu, yah.
Kudoakan segalanya berangsur membaik dan segala pelajaran dapat kujadikan modal menghimpun diri untuk bertambah yakin bahwa di dunia ini, manusia hanya pion-pion. Apakah kita dipermainkan?
Kalau pun dipermainkan, aku tetap merasa beruntung telah dilibatkan dalam permainan ini.
Tuhanku,
Jujur kuasa-Mu
Sangat
WOW
HAHAHAHA