Apr 5, 2020

Once in a While

Kemarin selintas melewati postingan Yumi Sakugawa sampai akhirnya aku putuskan untuk melihatnya dengan seksama.

Oke, kita bahas nomor 2 versiku.

Aku tidak yakin apakah hal-hal yang akan kusebut setelah ini termasuk hal yang hanya dapat dilakukan saat masa karantina atau sebenarnya bisa saja berlanjut saat masa mendekam akibat pandemi ini usai nanti. Namun, baiklah, ini daftarnya:

1. Menikmati rambutku yang mulai panjang seusai ia kering tiap kali habis keramas. Aku tidak begitu sadar kalau ternyata rambutku kian panjang dan enak sekali untuk disisir berkali-kali.

Kali terakhir aku potong rambut pada Februari 2019 lalu, tentu saja dengan pertimbangan agar mudah kering. Orang berhijab yang sebagian besar waktunya habis di kantor tentu saja tidak mau rambutnya mudah lepek.

Masa karantina membuatku rutin mencuci rambut dua hari sekali. Aku suka rambutku tergerai, sesekali dikuncir kuda atau dijepit dengan jepit berbunga yang ternyata nyaman dikenakan.

Ada dua shampoo di rumahku dan aku senang memakainya bergantian. Oh tentu saja, aku tidak perlu mengaplikasikan hairdryer untuk membuat rambutku kering.

2. Membuat dan meminum kopi susu. Aku tidak minum kopi karena selalu berujung membuat jantungku berdebar. Aku tidak minum susu karena dia terlalu laksatif bagiku.

Masa karantina membuatku punya terlalu banyak waktu untuk bisa menikmati rasa kopi yang dilanjutkan rasa berdebar yang selalu diduga akibat kafein. Pada hari-hari kerja, aku tidak pernah menjadikan kopi sebagai solusi rasa kantuk. Mengonsumsi kopi hanya akan membuatku lebih lelah dan terganggu.

Aku merasa rumah adalah tempat teraman untuk menetap setelah aku minum susu. Aku suka susu! Namun lebih sering menghindarinya karena efek laksatif dipadukan dengan metabolismeku yang cepat.

Karantina membuatku tidak cemas untuk meminum 2 gelas susu UHT kemarin siang. Aku menikmatinya.

3. Olahraga secara rutin. Aku tahu aku terlalu banyak pemakluman selama ini untuk barang menyisihkan 10-15 menit baik pada pagi maupun malam untuk melakukan olahraga.

Bukan 10-15 menit proses memacu daya tahan tubuh yang aku hindari selama ini, melainkan 20 menit ekstra setelahnya sebagai waktu meredakan diri, baik dari ritme napas yang lebih cepat maupun keringat yang dihasilkan. Tentu saja kedua hal ini tidak membuatku nyaman jika aku benar-benar berolahraga pada pagiku sebelum bekerja atau malamku sesampainya di rumah setelah menempuh kepadatan lalu lintas ibukota.

Karantina membuatku punya alokasi waktu setiap harinya sehingga aku bisa menghayati setiap gerakan yang kubuat, setiap momen kehabisan napas, maupun setiap kontraksi otot yang kurasakan. Nikmat sekali bisa menemukan kekhidmatan dalam tubuh sendiri.
.
.
Setidaknya 3 hal tersebut yang membuatku lebih menerima masa karantina. Terlepas dari itu, sungguh aku tetap berdoa masa krisis ini segera berakhir.

Ciao,
Afi Wiyono
Haya/Afi| 2008-2022