Jul 20, 2020

Masa Tua

Suatu waktu ada acara yang pada penghujungnya dilengkapi dengan untaian do'a oleh salah seorang profesorku. Salah satunya berupa permohonan agar kami  yang hadir dihindari dari masa tua yang membosankan dan tidak bermanfaat.

Aku saat itu berusia 22 tahun.
Profesorku usianya hampir 60 tahun. Untuk perhitungan lebih mudah kuanggap saja 60 tahun, maka selisih usia kami 38 tahun.

Tiga puluh delapan tahun cukup baginya untuk lebih awas pada hal-hal yang mungkin terjadi saat tua renta, terlepas dari memang gelarnya secara akademis jauh lebih dariku.

Tiga puluh delapan tahun membuatnya dengan mudah membuatku tertegun hingga mengamini dan meyakini bahwa rentetan kata tersebut selanjutnya akan hadir juga pada baris-baris permohonanku pada Tuhan.

Usai semua rangkaian acara, kucatat kesanku atas sesi do'a kali itu.

***
Aku kini berusia hampir 25 tahun.
Tiba masaku menyaksikan orang yang kian menjadi tua dan renta. Yang tidak jarang merasa bosan dan merengek minta perhatian seluruh dunia.

Menjadi tua sepertinya memang seberbahaya itu. Lekat sekali padanya penggugur kebaikan yang pada waktu bersamaan juga menjadi sumber ganjaran baik yang berlipat ganda.

Menjadi tua sepertinya tidak terlalu mengasyikkan karena merasa bingung mau mengharap apa pada waktu. Menjadi lebih lambat atau lebih cepat?

***

Aku harap aaminku atas permohonan agar dihindari dari masa tua yang membosankan dan tidak bermanfaat sejak awal didengar Tuhan.

Pantas saja profesorku mendapat gelar profesor. Beliau tahu apa yang beliau jalani dan apa yang hendak beliau jalani.

Aamiin,
Afi Wiyono
Haya/Afi| 2008-2022