Oct 24, 2020

Doaku Tiga Paragraf

Harapanku tidak banyak, tentu ini dalam takaranku. Setidaknya selalu ada tiga alinea, yang padanya ada tiga gagasan pokok baik di awal maupun di akhir, dalam setiap dialogku dengan Tuhan usai sembahyang. Soal bagaimana maknanya disampaikan, aku suka bermain pilih kata untuknya.

Berapa menit pesanku bisa disampaikan juga tidak menentu, tergantung berapa banyak energi yang aku punya, waktu yang sedang ingin aku sisihkan, dan seberapa rindu aku berdialog. Kalau boleh memilih, aku mau bisa lebih lama dan lebih lama lagi merasakan nikmatnya berkomunikasi lewat proses ini.

Namun aku adalah semampuku karena Tuhan sendiri yang memberiku kemampuan itu. Jadi, saat aku ternyata tidak dimampukan untuk tahan dalam memohon, kuanggap Tuhan mau aku berdialog lewat aktivitas lain.

Jawaban Tuhan untuk tiga ide yang aku sampaikan ada pada setiap langkahku. Soal kejadian mana yang menjadi jawaban yang mana sering kali tidak terlihat nyata pembedanya.

Jujur aku kadang punya rasa mau tahu saat Tuhan mengirimkanku manusia baru pada suatu hari. Segelintir pertanyaan berkutat pada peran apa yang akan mereka ampu sebagai jawaban Tuhan untuk permintaanku. Juga berapa lama proses yang akan kami jalani bersama hingga aku sampai pada titik penyadaran bahwa sosok ini adalah jawaban Tuhan untuk daftar inginku yang kesatu, kedua, atau ketiga.

Proses yang singkat lebih banyak terjadi dalam hidupku. Misalnya pada kasir swalayan yang tersenyum dan mengucap semoga akhir pekanku menyenangkan, nenek-nenek yang tertawa saat melihat temanku membawa tempat tidur dengan sepeda, dan pengantar pizza yang mau menunggu satu sampai dua menit di depan pintuku. Sesingkat itu hingga ia lupa dimaknai dengan mendalam.

Mungkin wajar, mungkin tidak, dan aku tidak tahu menahu Tuhan mau aku menyikapinya seperti apa. Untuk akumulasi setiap proses singkat, kuucapkan terima kasih, Tuhan. Semoga ini cukup untuk menjadi pertimbangan Engkau apakah aku layak dikabulkan doanya pada hari kemudian.

Soal proses yang panjang, durasinya berbeda-beda. Orang yang dikirim dan hadir untuk waktu yang lebih dari satu dua bulan dalam hidupku berdinamika dan pada suatu hari saat aku coba kilas balik tetap saja aku tidak bisa tahu dia mengambil peran apa untuk hidupku. Apakah dia menjawab permintaan nomor satu, dua, atau tiga.

Maka hari ini, setelah membuka mata sambil masih berbaring pada kasurku, kutanya Tuhan soal beberapa hal. Termasuk memastikan sosok yang dua hari lalu berbincang denganku itu. Apa bisa dia menjadi media-Nya untuk aku menikmati setiap kasih dan bukti bahwa Dia hadir dalam keseharianku dalam waktu yang lebih panjang lagi?

Bagian gagasan utama mana yang terpenuhi oleh hadirnya pribadi ini, aku harap bisa diperjelas. Kalau boleh memilih semoga dia jawaban nomor tiga, kalau tidak pun aku tidak berberat hati.

Kupastikan semua doaku adalah hal baik, semoga Tuhan juga berpendapat seperti itu.

Jadi, Tuhan, ini doaku:
Masih sama seperti yang kemarin, kok. Aamiin.


Sampai berdialog lagi,
Afi Wiyono
Haya/Afi| 2008-2022