Oct 29, 2020

Kamusnya Afi: Rindu

Aku mau bicara soal rindu.

Aku membatin, terpaut jarak dan waktu yang cukup jauh dengan keluarga akan buat potensi merinduku sangat besar. Anggapan ini sering muncul terutama sebelum aku benar-benar menempuh jarak dan waktu yang kumaksud. Kudasarkan anggapanku itu pada rindu yang kudefinisikan sebagai rasa kehilangan karena kealpaan suatu wujud maupun keadaan pada suatu waktu.

Anggapanku sekarang sebenarnya nggak berubah juga, sih. Aku tetap menganggap bahwa aku akan merindu begitu sering hingga begitu melelahkan.

Ternyata yang kurasakan berubah justru definisiku soal rindu itu sendiri. Aku sekali pun belum pernah merasa kehilangan akan hal-hal yang kupikir akan 'kurindukan'. Setidaknya sejauh ini, sih hehe.

Hal yang kupikir akan aku rasakan kehilangannya? Ini daftar sederhananya: Keberadaan wujud orangtuaku dan anggota keluarga lain, temanku, masakan dengan bumbu yang medok, kasurku, Mikel dan Puma, dan momen penuh kenyamanan yang diciptakan oleh semua hal yang telah kusebutkan.

Rindu bagiku kini lebih cocok dan lebih nyaman untuk mewakili rasa keterimaan dan penghargaanku atas setiap hal yang sedang nggak hadir bersamaku.

Kalau nggak hadir, apa mereka hilang? Nggak, karena aku terlalu yakin bahwa memang pada kesekaranganku, mereka sedang di tempat yang tepat saja, selaras dengan aku yang juga sedang di tempat yang tepat. Nggak hilang. Mereka ada. Aku ada. Mereka 'hadir'. Aku 'hadir'.

Kembali ingin kumunculkan rindu yang didefinisikan Gus Sabrang. Katanya, rindu ini awal mula rasa cinta bisa termanifestasikan. Kurasa premisku cocok sih, untuk dibuat lebih kokoh bersama pernyataan Gus Sabrang.

Rasa keterimaan dan penghargaanku atas setiap hal yang sedang nggak hadir bersamaku membuat aku bisa menyatakan betapa cinta memang hadir di antara aku dan hal yang 'kurindukan'.

Kalau aku nggak terima, mungkin itu keegoisan.
Kalau aku nggak menghargai, mungkin itu kesombongan.

"Masa iya sih cinta mau dibangun dari keegoisan dan kesombongan?"
Siapapun--baik yang merasa sudah tahu cinta, maupun yang belum--kurasa akan percaya diri sih untuk melontarkan pertanyaan itu.

Di luar definisi yang lebih banyak kusertai dengan kata mungkin, ada definisi lain yang nggak bisa disalahkan atau dijustifikasi. Kita semua berhak memberi batas pada makna sebuah kata, kok. Juga nggak mesti dianggap nggak punya sikap saat pembatasan ini berubah--kian sempit maupun luas.

Eh, kalau mau dianggap nggak punya sikap juga nggak berpengaruh apapun, sih hehehe.

Ini rangkumanku: aku mencintai, maka sudah dipastikan aku merindu.

Maka jikalau aku tidak menangis karena tidak merasa kehilangan, aku tetap merindu. 

24/7 euy,
Afi Wiyono

P.s. Tuhanku katanya memberi potongan-potongan rindu akan hadirNya pada banyak hal di dunia ini. Semoga benar adanya bahwa saat aku merindu, itu juga bentuk rinduku padaNya. Semoga aku bisa begitu jujur dan diberi kepercayaan olehNya. I luv u, Tuhanku.
Haya/Afi| 2008-2022