Dec 13, 2020

Ulung

Aku lumayan cukup sering konsolidasi sama Tuhan tentang teks pidatoku. Ada kali, pada tiap kesempatan ketemu kamu yang dijadwalin. Aku banyak mau ngomong soal aku, bukan kita.

Aku lebih tahu tentang aku dibanding kita. Egois secara sistemik gitu kesannya emang diriku. Kamu yang selalu ngingetin harusnya bagian kita diperbanyak, bukan bagian aku didikitin.

Kamu juga sadar kan yah sebenernya seberapa mungkin kita berhasil kalau akunya aja nggak rela memperbanyak porsi kita?

Tapi hasil konsolidasi sama Tuhan hasil teksnya ya begitu. Aku merasa mesti jelasin hal-hal yang seharusnya nggak perlu lebih besar gaungnya dari apa-apa soal kita. Tapi, aku kan bagian dari kita?

Saat aku pidato, aku nggak grogi sama sekali. Nggak kehilangan esensi gagasan pikiranku sama sekali. Keren, yah?

Tapi emang dasar deh Tuhan malah bikinin pidato juga buat kamu yang sekali lagi menurutku lebih punya pengaruh. Padahal kedudukan argumenku lebih punya dasar yang kuat! Tapi kenapa sih, lagi-lagi pidato kamu yang cocok buat dapet momen angguk-angguk?
Orator andal yah kamu?
Provokator pakai jalur orang dalam yah kamu?

Sekali lagi, barusan banget, sekali lagi, kamu malah bilang: jangan nyerah.
***

To many awkwardness more to come,
Cheers?
Haya/Afi| 2008-2022