Menangis bagiku tuh cara cepat menghabiskan energi supaya cepat tidur dan bisa skip sejumlah waktu sehingga nggak merasa lelah untuk selalu awas sama kondisi diri sendiri.
Pas bayi aku nggak nangis kecuali pas haus, minta nenen, mau minum susu. Pas dewasa aku jadi kayak ketagihan nangis.
Nope.
I ain't accepting any pity.
Hari ini Tuhanku menggerakkan dua temanku untuk mengawali berkirim pesan yang isinya kira-kira sama: "Aku peduli sama kamu walau kamu bangor teuing!" -- kata Tuhanku.
Tiba-tiba:
Ada kiriman video isinya temanku nyanyi lagu kesukaanku dengan suara khasnya, tanpa keyboard yang biasa jadi temannya. Nyanyi dalam kondisi lagi terpapar Covid-19 dan sedang karantina sehingga nggak berkawan alat musik. Aku baru tahu kondisinya juga karena dia sebut begitu di video bagian awal. Kutulis begini supaya bisa diingat kalau aku, temanku, dan seluruh dunia pernah mengalami (dan menikmati) masa pandemi.
Ada juga kiriman link webinar yang isinya membahas narsisisme untuk lebih menyayangi diri dari temanku yang berhasil bangkit dan lepas dari pengobatan. Aku terharu. Iri sedikit kenapa dia bisa dikaruniain kemampuan untuk peduli orang lain. Tapi aku tahu jawabannya, sih. Soalnya di kehidupannya, dia bertaruh banyak untuk melawan rasa takutnya. Jadi, adil banget sih kalau Tuhan kasih ganjaran keberanian yang berlebih yang bahkan bisa dibagi buatku.
***
Kembali menanggapi pesan dari Tuhanku lewat dua temanku hari ini: "Iya, iya, maafin atuh. Aku kemarin berhasil kok menyayangi diri dengan menghirup aroma lembut dari scented candle-ku. Juga menyayangi diri dengan mau bertanya soal asam sianida yang berasal dari pecahan linamarin ke temanku yang jago kimia walaupun aku nggak tau kenapa aku perlu nanya selain karena mau tahu aja. Aku juga menyayangi diriku dengan membiarkan emosiku tercurah jadi ocehan "huhu huhu" selama menonton Mukhsin (2006). Kemarin aku beberapa langkah lebih sayang lagi sama diriku."
Iya udah, Tuhanku, terima kasih lagi.
Untuk kehidupan sebelum hari ini, hari ini, dan semoga aku selalu dimampukan untuk berterima kasih selamanya.
Jangan tinggalin!
Hamba,
Afi Wiyono.
P.s. Tahun lalu aku posting juga di blog, sih. Kurasa aku ada kemajuan he he.