Dec 8, 2021

Aku pinjam lagu orang

Kakakku pernah bilang kalau dia punya sejumlah ketakutan. Salah satunya ketakutan akan tidak mengharmoninya lirik-lirik pada lagu tentang jatuh cinta dengan realitas yang ia jalani. Jatuh cinta miliknya indah. Namun, tidak sekali pun ia berani mencoba mengampu satu lagu untuk menjadi lagunya--lagu mereka.

Aku punya banyak lagu untuk kunyanyikan saat aku ingin. Pada tengah malam, di antara pesan-pesan yang belum kubalas dan gelapnya kamarku, mereka bergema. Maka, ada aku dan gambaran-gambaran pengandaian sebagai wujud tiap kata. Aku dan dia yang jadi tokoh utama. Kadang mampu sampai ke sana, lain kesempatan aku tidak pernah jadi tokohnya.

Kakakku mungkin bijak untuk tidak secara langsung menyadarkanku bahwa kisah cinta--termasuk pilunya patah hati--milik kita masing-masing tidak akan pernah jadi komoditas yang berlalu lalang di pasar. "Kata-kata milikku dan milikmu tidak akan tayang pada alunan manapun," ujarnya. Jika dan hanya jika: kami mau membuatnya sendiri.

Ah.
Tidak ada salahnya kalau sesekali aku pinjam lagu untuk kisahku. Soalnya aspirasiku atas kisahku sendiri menjelma pada sebuah lagu. Yang setidaknya ingin kusampaikan pada orang yang bahkan bisa dipastikan tidak akan memaknainya dengan cara yang sama.

Tidak masalah.
Jatuh cintaku indah.
Tidak jarang bisa digambarkan oleh bait-bait lagu di pasaran.
Jatuh cintaku basic sekali hehehe.
Atau memang ia sungguh manifestasi dari sesuatu yang teramat universal.

Aku tidak peduli,
Asalkan itu aku dan kamu.
Hehehehehehehehe.
Haya/Afi| 2008-2022