Apr 15, 2014

Definisi

Hari ini saya dapat kuliah Bahasa Indonesia dari Bu Defina.Saya belajar tentang definisi.
Definisi?
Iya, secara teoritis dalam tinjauan linguistik, ada tiga definisi: 1) definisi sinonim, 2) definisi etimologi, dan 3) definisi formal. Yang paling menarik bagi saya adalah penjelasan tentang definisi formal. Menarik karena cara Bu Defina menganalogikan konsep definisi formal itu dalam kejadian sehari-hari macam melontarkan pertanyaan "KAMU KENAPA PAKAI SENDAAAAL??!" ke Agus yang jelas-jelas pakai sepatu kets. Lalu Agus bingung dan membela diri, "ini sepatu, Bu!". Saya dan yang lainnya tentu penasaran. Lalu, Bu Defina bilang lagi, "COBA KAMU ANGKAT ITU, KASIH TUNJUK TEMAN-TEMANMU. ITU SENDAAALLL!!" (Maaf kalau cara penulisan yang merusak mata. Penggunaan kapital adalah wujud kelantangan suara Bu Defina yang superhebring)

Lalu Agus dengan agak ragu-ragu mulai melepas sepatunya dan mengangkatnya supaya kami, teman-temannya, bisa lihat. Ada diam-sejenak-moment saat itu. Tapi setelah itu.... "ITU SEPATU BUUU!!" balas kami menyemprot Bu Defina. Habis itu Si Ibu terkekeh-kekeh, macam menang. Lalu kami baru sadar maksudnya.

Iya, Agus pakai sepatu kok. Kenapa kami tahu itu sepatu? Iya, karena sepatu memang yang begitu. Yang bagaimana? Iya, yang alas kaki itu. Alas kaki yang bagaimana, keset juga alas kaki, kan? Bukan, sepatu itu alas kaki yang bisa dipakai. Ya itu sendal dong, apa bedanya? Sepatu itu membungkus kaki. Itu dia, itu dia sebabnya kami bilang Agus pakai sepatu. Agus pakai alas kaki yang membungkus kakinya, itu namanya sepatu. Dan itu dia bagaimana mekanisme pendefinisian formal terjadi. Walaupun sepatu dan sendal ada dalam genus yang sama, yaitu alas kaki, tapi masing-masing punya pengkhususan atau karakteristik yang berbeda. Jadi, setelah menentukan genus kata, pendefinisian dilanjutkan dengan deferensiasi.

Kata Bu Defina, kalau mau mendefinisikan lalu mendeferensiasikan, kami harus paham betul karakteristik kata (dalam hal ini kata benda) yang akan didefinisikan. Harus tahu jelas apa bedanya benda ini dengan benda lainnya yang satu genus.

***
I don't know why but it feels conterminous with life itself. I mean, you are not able to define those which is not well-known being. Whereas, defining things means having capability of knowing, at least most of, the defining words' characteristics.

Boleh disangkutpautkan sama manusia? Boleh lah ya.
Maksud saya, kita nggak bisa benar-benar mendefinisikan seseorang. Mengeneralisasi layaknya menggunakan definisi formal juga nggak bisa karena nggak ada orang yang diciptakan atau menciptakan dirinya benar-benar identik dengan orang lain. Mengeneralisasi akan berujung kesalahan pada akhirnya, seperti kasus alas kaki yang nggak semuanya sandal dan nggak semuanya sepatu. Dan ya, to define things exactly, it's obviously to be........mengenal dengan sangat baik.

Kita nggak bisa mendefinisikan seseorang tanpa tahu bagaimana sebenarnya orang itu menjalani hidupnya. Tapi, sedekat apa pun orang dengan orang lain, dia nggak bakal benar-benar tahu juga kok bagaimana orang itu sesungguhnya. I mean, even your mother sometimes hardly knows that you're actually not the one as it seems to be. Malah kadang, kita sendiri nggak benar-benar mengenal diri kita sendiri.

Sulit sih, ya. Intinya sih menurut saya, jangan mendefinisikan atau menilai orang dengan begini atau begitu. Society judges. That's how we roll, yes? Itu yang kadang bikin ganggu. Let people live their lifes, will you? Komentarin hidup orang emang enak banget, hobi saya sama Agnes banget. But please, will you just save it for yourself? Jangan merusak kehidupan orang dengan penilaian payah kita yang cuman berasal dari observasi skala minimum

Entahlah, memang nggak cocok untuk menganalogikan konsep definisi dengan diri seseorang. Ataukah manusia memang diciptakan untuk tidak didefinisikan? Mungkin juga.


Saya juga nggak bisa dan nggak suka didefinisikan,
Afi Wiyono


***
Welcome back, self esteem! Dasar payah, kenapa sempat hilang sih?
HayahAfifah | 2008-2017