May 2, 2014

Seporsi Diri

Well, it is working too well. Sepertinya memenuhi semua keinginan diri sendiri terkadang harus sampai titik maksimal. Tolong dicatat, keinginan lho, bukan kebutuhan. Saya nggak tahu juga kenapa akhir-akhir ini terlalu banyak keinginan yang meraung-raung minta dijadikan momok sehari-hari. Terlepas dari urgensinya, butuh atau tidak, saya justru selalu memaksa diri untuk menuntaskannya. Penuhi! begitu kata diri saya kepada diri saya.

Terdengar bodoh tapi saya merasa ini cara yang cerdas.
Sudah terlalu banyak orang menjadi pahlawan untuk orang lain sampai lupa kalau dirinya butuh diselamatkan juga. Apa ini tuntutan jadi makhluk sosial? Hidup harus rela bagi-bagi terus sama orang. Hidup harus pakai asas gotong royong, nggak ikutan dibilang sombong. Tapi, jangan lupa juga kalau manusia makhluk individu.
Secara etimologi, individu berasal dari kata in (tidak) dan divided (terbagi), bahasa Latinnya individium. Manusia sebagai makhluk individu adalah manusia sebagai satu kesatuan yang utuh antara jasmani dan rohani, fisik dan psikis, raga dan jiwa. Iya, itu tiga-tiganya intinya sama. Ada hak-hak pribadi yang harus dipenuhi manusia untuk dirinya sendiri. Sok tahu banget ya saya, hoho emang.

Atas dasar itulah, saya yang sedang concern sama kemajuan diri sendiri ini akhirnya memutuskan untuk memenuhi keinginan. Hitung-hitung boleh juga sebagai apresiasi untuk diri sendiri karena selama ini udah tahan untuk tetap jadi diri sendiri di antara lingkungan yang menggoda untuk ganti kepribadian. Selamat, self! Kamu hebat sekali!

Ohya, jadi mohon maaf untuk kalian-kalian yang merasa saya ketus sesekali karena saya lagi egois, lebih tepatnya "aku lagi egois" (baru tahu ternyata ada beda sifat di antara kata saya dan aku). Saya keteteran sama banyak hal yang statusnya kebutuhan. Dongkol nggak sih dengernya? kayak bodoh banget memilih denial. Again, saya merasa ini cara yang cerdas.

Kamar kosan saya juga nggak beraturan banget terlihatnya (dan kenyataannya pun begitu). Ada banyak barang yang tempatnya nggak sesuai. Netbook, sketch book, buku-buku Balai Pustaka, buku pinjeman dari orang, buku tahunan SMA, foto-foto yang udah di cetak, papan tulis, time organize board, tas, baju-baju, dan kertas-kertas bertebaran di sembarang tempat. Tapi saya merasa 'hidup' dengan ini semua. Aaaah memanjakan diri sendiri memang sangat membahagiakan.

Oh ya, kedepannya saya masih punya banyak keinginan yang mudah-mudahan bisa ganti status jadi kebutuhan biar nggak sia-sia saat diperjuangkan. Ini daftar kecilnya: keyboard di kamar kosan, alat lukis, seperangkat alat rajut, scanner di kamar kosan, stem piano di rumah, mastering piano, belajar gitar, naik kuda, bisa nyetir, dan meeting my senior high buddies! Yang terakhir kayaknya emang udah ganti status jadi kebutuhan dan lebih ke kebutuhan saya sebagai makhluk sosial. GILA! Rasanya menggebu-gebu banget untuk ketemu beautiful people kayak mereka! Ini serius loh. It doesn't mean that I don't like those surrounding me here. Nggak gitu, saya suka sama orang-orang di sini. Baik-baik semua. Cerdas-cerdas. Tapi beda. Nggak tahu juga sih, gimana cara ngejelasinnya. Waktu saya cerita soal ini ke Kamil dia juga merasakan hal yang sama. Hahahahaha adik-kakak memang diciptakan untuk saling mengerti, ya? huft.


Bonus, video yang sampe sekarang jadi most listened di pekan ini


Now looking back at all we've planned
We let so many dreams
Just slip through our hands
Why must we wait so long
Before we'll see
How sad the answers
To those questions can be



Musiknya indah, liriknya juga indah.

Selamat mencintai diri sendiri!
Dari si Egois
HayahAfifah | 2008-2017