Jun 19, 2014

#2: Sepuluh Tahun?



Sepuluh tahun lagi saya sudah tidak menetap di Bogor atau Jakarta. Mudah-mudahan begitu.
Kenapa bukan Bogor? Karena kota ini mulai sibuk seperti Jakarta. Karena Bogor kota kelahiran saya, jadi saya harus cari kota lain supaya banyak rasa. Haha, apasih.
Kenapa bukan Jakarta? Karena kota ini sibuk. Sudah. Tapi kadang saya berpikir tidak akan begitu rela kalau harus meninggalkan Jakarta.

***
Berbicara tentang sibuknya Jakarta, hari ini saya mesti bergulat dengan waktu supaya bisa sampai sana sini. Kemarin malam tanpa direncanakan, Agnes bermalam di rumah saya. Si Orang Sukabumi ini butuh tamasya, sama seperti saya. Bedanya, bagi saya, bertolak ke pusat kota bukanlah tamasya tapi petaka karena ya, sudah kodratnya si Ibukota, padat. Saya sebenarnya supermalas kalau harus sibuk dengan ketidaksibukan di dalam transportasi publik--mau itu angkutan kota, transjakarta, kereta, metromini, kopaja--Jakarta. Kerjaan saya pasti cuma antre atau duduk sempit-sempitan atau berdiri sambil desak-desakan atau merasakan sakitnya diinjak tante-tante. Tapi Agnes harus tahu bagaimana kondisi ibukota sekarang. Alhasil, hari ini saya, Agnes, dipandu Mama jalan-jalan ke Jakarta Pusat *grin*

Saya akui, hari ini juga tamasya bagi saya karena akhirnya lidah ini dimanjakan oleh dua sajian Magnum Cafe dan otak ini dapat suplemen karena akhirnya saya menemukan Foodreview!! Cheers untuk Gramedia Grand Indonesia! Sudah enam tempat--toko buku dan gerai majalah di berbagai tempat--saya kunjungi demi mendapatkan Foodreview tetapi hasilnya hanya betis yang pegal.

***
Sepuluh tahun lagi saya akan menjadi science journalist. Fokusnya, saya akan banyak mengomunikasikan atau menginformasikan berita-berita terkait dunia pangan. Sebagai permulaan, saya akan coba magang di Foodreview, semoga semester depan sudah dapat terlaksana! Saya mau banyak orang mengerti betul apa yang ada di makanannya. Saya mau banyak orang paham benar mengapa harus mengonsumsi ini dan tidak mengonsumsi itu. Jelas, untuk dapat menjelaskannya ya saya harus paham total juga. Makanya, studi yang saya ambil ini mudah-mudahan benar-benar membawa kemaslahatan bagi saya dan banyak orang. Yeay, semangat calon ahli pangan!

Selain isu pangan, saya juga mau mengangkat isu-isu pertanian yang sekarangn kesannya termarjinalkan. Termasuk di sini, di kampus pertanianku--di kampus pertanian Indonesia--pun isu pertanian termarjinalkan. Menyedihkan benar nasibmu, Pertanian.

Sepuluh tahun lagi saya sudah menyelesaikan studi kelanjutan saya, mungkin S2, mungkin juga S3. Wah, jadi profesor kah? entahlah, kita lihat saja nanti. Studi master akan saya lanjutkan di negeri orang, sepertinya. Oh iya, tentu dengan sokongan biaya atas prestasi saya nantinya (aamiin).

***
Saya pernah bincang-bincang cukup berbobot bersama Dedi, teman seperjuangan saya yang juga mantan-calon-dokter-yang-akhirnya-masuk-prodi-ilmu-dan-teknologi-pangan. Selandia Baru, Belanda, Jerman, ketiganya tujuan saya, sedangkan Selandia Baru, Amerika, Jepang, ketiganya tujuan Dedi. Semoga kita masing-masing bisa mewujudkannya, ya Ded! Btw, Amerika sebenarnya sangat direkomendasikan tapi entahlah, gaya hidupnya nampaknya tak terlalu sehat.

***
Sepuluh tahun lagi saya punya restoran keluarga. Ah, membahagiakan sekali rasanya karena ini yang sudah dicita-citakan Mama dan Ayah sejak lama. Restoran ini menyediakan makanan sehat dengan harga terjangkau dan suasana yang membahagiakan. Pasti ada menu jamur di sana. Sesekali saya dan Kamil akan mengisi hiburan musiknya, entah bernyanyi atau bermain piano. Mama dan Ayah akan jadi pemilik yang ramah dengan segala perbincangan yang dilontarkan kepada para pembeli. Tak jarang pasti ada hadiah khusus untuk mereka yang punya 'preferensi sama'--bisa jadi politik, musik, pandangan--dengan Ayah. Ayah memang begitu. Dan juga kudapan lezat tak berbayar bagi anak-anak dari Mama. Mama pasti ramah dengan bocah-bocah.

Sepuluh tahun lagi saya sudah punya pendamping hidup. Ya mana tahu juga siapa orangnya. Punya keluarga kecil baru dan hidup dengan cara yang saya dan dia inginkan. Mendidik anak dengan cara sehat, mengasyikkan, tak neko-neko seperti yang selalu diajarkan Mama dan Ayah. Beliau-beliau pasti senang main sama cucunya. Saya juga akan jadi tante dari keponakan-keponakan saya, haha lucu juga membayangkannya.

Sepuluh tahun lagi saya akan punya banyak cerita. Cerita menyenangkan yang akan terus memacu saya untuk berbuat lebih, lebih, dan lebih, untuk kehidupan yang lebih baik, untuk kehidupan di dunia ini yang lebih baik, untuk kehidupan banyak orang di dunia ini yang lebih baik. Kabulkanlah, ya Allah.



Setidaknya, ini yang saya lihat pada sepuluh tahun yang akan datang.
Masih banyak lagi sih, sebenarnya.
Siapa yang tahu.
Siapa yang tahu dan peduli bagaimana ini semua dapat terwujud.
Kecuali saya sendiri. Dan Mama. Dan Ayah. Haha, beliau selalu terlibat, pasti. Setidaknya ada doa-doa beliau.

Selamat melanjutkan cerita, Afi.


HayahAfifah | 2008-2017