Jun 17, 2014

#1: Current Relationship

Oke, saya memutuskan untuk menjalani tantangan tiga puluh hari nge-blog atau semacamnya. Toh, liburan sudah dipelukan dan wi-fi di rumah hampir ready, and i was like "superyeay".

#1
Haha, so I supposed to talk about my relationship, yes?
Di sini sepertinya ditekankan untuk menjelaskan romantic relationship atau semacamnya. Bahkan kalau single pun mesti dijelaskan bagaimana rasanya. Well, okay I'll take that.



Seperti yang sudah saya pernah tulis, saya hmm si-orang-telat-puber, si-nggak-peduli sama hal beginian, si-payah (well, yes). In other words, iya saya single (if you want me to conclude, then) dan okay karena bagi saya nggak ada hal yang bisa membuat saya taken kecuali nanti kalau udah nikah. Rada sampah gitu sih ngomongin beginian, yes?

Kenapa sih di masa-masa remaja menuju dewasa kayak gini bisa-bisanya ada pengelompokan yang diliat dari ada-tidaknya 'pasangan'? Iya, macam single dan taken. Sebutlah orang yang taken itu yang punya pacar dan single itu yang nggak punya pacar. Padahal bagi saya sih nggak ada bedanya. Do I sound skeptic? Tapi serius, bagi saya mau kamu punya pacar atau nggak ya menurut saya kamu belum taken selama kamu belum ijab qabul.

Disclaimer: Bukan artinya saya nggak punya perasaan terhadap lawan jenis. Punya kok! But it goes to waste, lol. Gadeng. Mungkin bagian dari otak saya meresponnya dengan cara yang berbeda. Saya menikmati bagaimana rasanya nggak pernah galau, bagaimana rasanya galau tapi galaunya gara-gara pengen ngerasain galau, galau-ception. Semacam itu lah. Saya udah konsultasi kok ke sobat-sobat saya ya intinya sih kata mereka saya kasihan, saya menyedihkan, tapi memang nggak bisa dipaksakan. Nggak peduli, sih.

Kalau seandainya saya menjalani sebuah hubungan pun, mungkin ceritanya bakal menyebalkan. Yes, there's no perk of dating me cause I wouldn't be busy making a special relationship with anyone. Mungkin perlu digarisbawahi bahwa special relationship di situ maksudnya hubungan yang ada statusnya, if you know what I mean.

Status yang kamu buat sama pacarmu itu, maz&mbak, bagi saya semu sekali. Saya rasanya bisa berbuat lebih banyak hal sama lawan jenis (oke ini ambigu dan terdengar tidak mengenakkan tapi percayalah ini masih di koridor yang tepat) daripada yang maz&mbak lakukan ke pacarnya. Status itu bagi saya macam borderline yang mengharuskan kamu peduli sama doi, atau bahkan sok peduli. Yang mengharuskan kamu manis sama doi, traktir doi, ngegreet doi tiap malem, dan semacamnya. Tanpa status pun kayaknya bisa dilakukan. Sayang sekali status itu kadang lebih dari sekedar borderline, semacam pagar berduri. Udah ngebatesin, bisa bikin luka pula.

Sok tahu banget deh saya. Kayak pernah tahu aja gitu ya. Ya begitulah. Kira-kira.

Saya suka membangun hubungan. Ya sama siapa aja gitu. That's the perk of being my self, indeed. Beginilah current relationship saya. Kalau ada yang spesial pun, saya nggak mau membangun pagar berduri yang nantinya berpotensi bikin saya korengan pas mau kabur atau kulit mulus dia terbeset-beset pas mencoba melihat dunia luar. That's the only perk of dating me, I guess. Karena lagian kita nggak bakal ngedate.

Bagi maz&mbak yang sedang punya hubungan spesial semoga diberkahi Tuhan dan kelanjutan kisahnya sesuai sama keinginan. Mau saya doain biar langgeng dan menuju ke jenjang selanjutnya takut pada marah. Karena nggak sedikit juga sih yang kayaknya sih ya, kayaknya terpaksa gitu. Semangat ya maz&mbak


That single sheet,
Afi
HayahAfifah | 2008-2017