Nov 30, 2014

Kertas-kertas

Waktu itu, seorang teman bercerita bahwa hidupnya sedang tidak seimbang. Tidak seimbang antara waktu untuk akademis dan non akademis. Dia bilang, hidupnya monoton dipenuhi lembaran kertas yang penuh dengan tinta warna hitam. Kertasnya bergaris tepi, ukuran legal. Dalam sepekan, dia habiskan waktu lebih dari 2 jam setiap harinya untuk kembali menuliskan teori-teori yang harus diikuti dengan sitasi. Monoton, katanya. Bosan kah dia? Hampir bosan setengah mati.

Dia juga bilang kalau dia rindu berorganisasi. Sejak duduk di sekolah menengah pertama, dirinya terbiasa sibuk dengan lembaran kertas. Kertas pertanggungjawaban, namanya. Kertas-kertas ini biasa diisikan barisan kata dan angka tentang kegiatan yang telah ia dan organisasinya lakukan. Kertas-kertas itu lebih menyenangkan dibandingkan kertas-kertas yang kini sering tersebar di kamar sewanya.  Apakah itu karena isinya, sempatku bertanya. Dia bilang tentu bukan, tetapi prosesnya.

Prosesnya menyenangkan, mulai dari menyusun kegiatan hingga kegiatan itu usai. Apakah kegiatannya selalu mudah untuk dihadapi, tanyaku memotong pembicaraan. Tidak, kegiatannya sering membuat tekanan yang bisa dibilang besar. Tak jarang kepalanya pusing lebih dari tujuh keliling. Soal angka berbeda lagi, lebih rumit. Angka-angka dalam kolom bertuliskan "pemasukan" sering kali tidak lebih besar dari angka-angka yang dituliskan pada "target pemasukan". Setengahnya pun belum tentu terpenuhi. Pusing kah dia? Iya, disertai detak jantung yang lebih hebat dari biasanya. Dia tidak pernah berharap hal itu terjadi.

Namun, dia lebih suka memusingkan diri dalam tekanan yang hebat itu dibandingkan harus memalsukan nama dalam tanda kurung sebagai sitasi teori yang ia buat sendiri. Aku juga kadang culas sedikit, memalsukan tahun paling tidak. Aku tahu, kita sering didesak untuk kembali menuliskan hasil percobaan yang kita lakukan di dalam laboratorium. Ah, tapi coba pikir lagi. Bukankah ini lebih mudah ketimbang harus terlilit utang demi acara tahunan sekolahmu itu? Tanyaku lagi.



Dia berpikir kembali.



Akhirnya dia buka sedikit rahasianya. Dia tidak pernah benar-benar senang dalam proses yang menyulitkan, termasuk saat harus terlilit utang, dikejar waktu mati, dan mengetik berlembar-lembar hasil kegiatan sekolahnya. Dia tidak pernah suka. Tetapi pada akhirnya, itu yang ia suka. Jadi, bukan prosesnya. Kamu mau senang? Akhiri segala yang menyulitkan kalau memang kamu tidak bisa menjadi riang gembira saat menjalaninya. Temukan akhirnya, begitu kami simpulkan.

Keseimbangan itu tidak pernah ada, termasuk dalam hidupku, hidupmu, dan kehidupan orang banyak. Utopis. Kamu cuma memilih yang menurutmu lebih pantas untuk diperjuangkan. Kadang kita tidak peduli kadarnya, karena kita tidak menimbang. Ah, manusia.

Lebih dari itu, apa yang kuperjuangkan dan kamu perjuangkan memang beda pada dasarnya.


HayahAfifah | 2008-2017