Dec 23, 2014

Senin, Ragu, Kelabu


"WOY! KURANG TILU RIBU! WOY!!"

***

Kereta jalur 6 tujuan Jatinegara melaju tidak lama setelah aku mencapai gerbong 8, khusus wanita. Aku niatkan berjalan ke gerbong paling ujung ini agar sesampainya di stasiun tujuan, aku bisa langsung menemukan pintu keluar stasiun. Hujan mengguyur kota ini, kota kebanggaannya, Bogor. Deras sekali sampai aku menguap beberapa kali. Tidak relevan sih ucapan ini, ah tidak peduli. Aku dapati beberapa bocah perempuan duduk sedang tertawa-tawa. Selamat, kamu bahagia ya, Dik?

Melankolia mengiringi perjalananku. Meski sebenarnya ini momentum yang sering aku idamkan--sendiri dalam keramaian. Aku suka. Aku suka berdiam dalam aksi namun batinku sibuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang kadang hanya retorika belaka. 

Hujan masih sibuk. Aku ambil komputerku dan sibukkan diri meninjau penampilanku di hari kemarin. Bernyanyi, hobiku yang tetiba mengantarku ke panggung aksi. Mengesankan, terima kasih atas kesempatannya. Berulang kali aku memutar rekaman yang menghibur itu. Tak lama, aku sampai di stasiun tujuan.

Hujan masih berisik. Sepasang sepatu kumal yang kupakai sudah terlalu sering berkorban untuk lagi dan lagi kuyup disiram hujan. Tetapi tidak untuk hari itu. Temanmu ada di sini, sendal namanya, batinku berucap pada sepatu. Siap sedia aku keluarkan sendal dan kukenakan segera. Payung yang telah sedikit aku reparasi siap mengembang. Orang-orang sekitarku menoleh beberapa saat dan kembali cemas akan perjalanan pulang mereka. Sampai berjumpa lagi, Kalian. Aku mulai melangkahkan kaki keluar stasiun.

Tak jauh dari situ, sebuah angkutan biru menyambutku. Hariku mudah, ya. Terima kasih Tuhanku yang Mahabaik, tak perlu aku bersusah menunggu angkutan yang tepat. Segera aku masuk setelah menutup payung merah bermotifku. Angkutan ini masih kosong. Selang beberapa waktu, empat laki-laki masuk dan duduk disampingku, juga di depanku.

Kumal, kotor, wajah lelah, dan tas robek menghiasi diri mereka. Aksen sunda mulai mereka lontarkan satu sama lain. Aku senang, kembali di momen sendiri dalam keramaian. Curi dengar memang selalu mengasyikkan. Suara mereka terdengar parau, tak merdu seperti saat aku tampil. Ah, pikiran macam apa ini. Suaranya juga serak.

Siapa berani bertaruh padaku?
Mereka adalah pekerja berat.
Siapa berani bertaruh padaku?
Mereka pasti habis bekerja 3 hari tanpa henti.
Iya, aku dengar semuanya maka dari itu aku berani bertaruh.

Hidup mereka mudah kah? Aku bertaruh, tidak semudah itu. Tidak semudah hidupku yang langsung disuguhi angkutan pulang ketika keluar stasiun. Tidak semudah kamu yang sedang berleha-leha memandang layar berpancar sambil membaca tulisan ini. Tidak semudah kamu yang memang punya kesempatan belajar di perguruan tinggi dan ada harapan kerja di perusahaan multinasional. Katakanlah, itu cita-citamu.

Keempat bapak ini kutaksir separuh baya. Kerutan wajahnya sungguh manusia. Hah, apa? Jangan tanya mengapa atau apa, aku juga tidak tahu mengapa merasa begitu. Aku sempat melontar senyum saat seorang dari mereka melirikku. Senyumanku sebenarnya ada artinya, begini "terima kasih, Anda membuat saya berpikir. Otak ini sungguh senang untuk kembali digunakan, mata ini juga senang menyaksikan kehadiran Anda dengan penampilan apa adanya juga sungguh manusia, dan telinga ini juga senang mencuri dengar kata-kata yang bukan termasuk keluh kesah. Anda sungguh hebat, saya senang, terima kasih lagi"

Aku masih dalam kebahagiaan, sementara hujan masih mencari perhatian. Deras sekali.
"Pinggir, Bang!" Salah satu dari mereka berucap. Angkutan ini berhenti namun tidak ke pinggir. 
"Turun sini aja, Pak. Buruan" sialan, pikirku, seenaknya Pak Sopir berlagu. "Cepet jangan lama-lama!"
Keempat lelaki ini mulai turun. Tanpa payung, tanpa penutup kepala. Salah satu dari mereka sepertinya bermasalah dengan sistem syarafnya, aku berani bertaruh. Sampai jumpa lagi, Bapak. Semoga kekuatan mengiringi kehidupan Bapak dan segala kelancaran tercipta. Aku membatin. 
Di waktu yang singkat itu, aku merasa mendapat banyak pelajaran.


"WOY! KURANG TILU RIBU! WOY!!" Suara dengan nada tinggi tiba-tiba terdengar. "WOY PAK!!" Klakson mobil dibunyikan, ditekan, suaranya kencang dan panjang. Aku tetiba resah dan tak tenang. Si Sopir berlagu terlalu banyak, sialan dengan Bapak Sopir angkutan itu. 
"WOY!! ASUU!"

Sementara itu, keempat lelaki tadi berlari mencari tempat berteduh. Sopir sialan tetap berteriak meminta uang lebih. Kala itu, aku yang duduk paling dalam ingin berteriak akan mengganti uangnya, namun aku ragu. Ada yang lebih sialan dari si Sopir. Aku, aku lah orang itu. Aku terlalu pengecut. Aku yakin, tiga ribu rupiah akan sangat berarti bagi keempat lelaki separuh baya yang sudah basah kuyup itu. Muka mereka terlihat pedih karena guyuran hujan dan berusaha tidak peduli dengan teriakan si Sopir. Aku tambah resah.

Aku ingin berteriak. Tetapi aku ragu. Ragu sekali. Mengapa sangat sulit?
Sopir keras kepala tidak kunjung merelakan tiga ribunya. Hidupnya sulit, mungkin. Seperti aku yang sedang sulit di antara keraguan yang sangat menyesakkan. Sialan untukku, sungguh sialan.

Momen itu terasa panjang.

Sopir masih berteriak hingga salah satu dari lelaki itu menghampiri. Kata-kata sunda kembali terdengar, si Bapak dengan nada rendah, si Sopir dengan gertakan. Akhirnya, tiga ribu kembali di keluarkan. Aku kelabu. Kelabu karena ragu. Angkutanku kembali melaju.
Sepanjang perjalanan aku kelabu.



Senin--karena ragu, aku kelabu.
Teruntuk keempat lelaki yang sungguh manusia,
Maafkan aku tidak bisa membantu. Aku yakin Tuhan punya cara lain. Terima kasih banyak! 
HayahAfifah | 2008-2017