May 14, 2015

Bocah, Mahasiswa, dan Koreng

Luka-luka karena ulah sendiri.
Lihat itu luka di jidat belum kering, harus tambah lagi dengan luka di dengkul sebelah kiri.

Tepat sepekan lalu, Ghazi dengan akumulasi energinya pada pagi dan siang hari berlari menuju ke arah dapur. Berbeda dengan mobil dalam tayangan favoritnya, Hello Carbot dan Tobot, bocah ini tidak dilengkapi dengan sistem breaker. Ya sudah, tempat cuci piring yang bersudut itu jadilah menghujam dahinya. Bersyukur tidak harus kembali dijahit seperti beberapa waktu lalu. Luka parah yang paling pertama ia dapatkan adalah hasil mengejar bola di jalanan berbatu. Bolanya berhasil tertangkap, setelahnya ia terjungkal ke depan dan harus segera dilarikan ke rumah sakit. Empat jahitan, hampir satu jam tangis tidak henti. 

Kemarin, sekitar pukul lima tiga puluh sore, kutemui ia sedang duduk di atas sepeda roda empatnya sambil tertunduk. Habis menangis, kata bundanya. Saat kutanya mengapa, ia bercerita tentang kronologi terlukanya dengkul kiri. Lukanya lumayan berat.
"Pas udah lewat dua pohon pisang, ada polisi tidur Azi lagi ngebut terus belok kiri. Terus ketiban sepeda," ujarnya.
"Ngebutnya banyak apa sedikit?" Tanyaku.
"Sedikit. Eh, banyak"
Poinnya begitu, dia tahu kalau sedang ngebut banyak dia tidak bisa tiba-tiba berbelok. 

****

Tak mengapa lah, kalau kata George Harrison dalam lagu While My Guitar Gently Wheeps: "with every mistake we must surely be learning". Adikku ini memang belum secara resmi mengenyam pendidikan formal. Tetapi hal itu tidak menutup akses dirinya untuk menjadi orang cerdas. Sebab, kita manusia memang diberi kecerdasan sejak awal diciptakan. Sebagaimana Tuhan menciptakan manusia menjadi pemimpin di muka bumi. Entahlah bagaimana nantinya, mungkin Ghazi memang tidak akan 'disekolahkan'. Aku setuju, bapaknya setuju, ayahku setuju, kakakku setuju. Kami merasa yakin, tanpa pendidikan formal pun ia bisa menjadi manusia seutuhnya. Jelaslah, kami para orang tuanya harus berdual fungsi sekaligus menjadi guru.

Ghazi banyak belajar dan mudah mengerti. Anak seumurnya memang sangat gampang dibentuk. Pendidikan formal tidak pernah menjamin 'lurusnya' seseorang. Tengoklah mahasiswa, tanpa mencoba mengeneralisasi mereka, tak sedikit dari mereka--atau kami--yang bobrok moralnya. Memang sih, tak sepatutnya aku mendefinisikan perlakuan seseorang menjadi kata sifat. Terlebih kata sifat yang cenderung negatif. Ya, tulisan ini namanya opini jadi ini dalam pandanganku. 

Siapa pun yang tak setuju menyebut seseorang bobrok moralnya karena telah melempar bangku (*) ke tribun tempat pemandu sorak lawan usai suatu pertandingan sehingga berpotensi mencelakai banyak orang, sila merasa begitu. Agaknya aku akan tetap pada pendirian untuk hal ini. Apalah arti dari melempar bangku ke tribun lawan? Terlepas dari asal usul tersulutnya, hal ini tetap berbahaya. Bangkunya ringan, ya? Tak peduli, tetap berbahaya. 

Bagi kamu yang melempar, sila ingat-ingat kembali awalnya memegang bangku niatnya untuk apa? Jangan tanya balik kenapa aku bertanya. Aku cuma minta kamu ingat-ingat. Kali saja awalnya kamu cuma ingin ambil bangku untuk duduk tetapi tiba-tiba jasmanimu tidak menghendaki dan memaksamu melemparnya ke arah lawan. Kasihan nian rohanimu kalau begitu, diingkari badan sendiri. Beda lagi masalahnya kalau kamu--si rohani yang diciptakan Tuhan suci pada awalnya dan dipinjami jasad untuk berbuat baik-- justru menghendaki kedua tanganmu melempar bangku itu untuk mencelakai orang. Oh ya, bisa jadi hanya diingkari satu tangan karena kamu kuat dan bangku itu bukan hal yang berat bagimu. Selamat. Kalau itu namanya diingkari nurani sendiri. Tapi, ayahku pernah bilang kalau hati nurani sekali pun tidak akan mengingkari. Entah bagaimana menurutmu dan ayahmu.

Melempar bangku hanya sebuah contoh dari hal-hal 'tidak bermoral' lainnya. Bagiku, membuat orang merasa tidak nyaman dan berada dalam bahaya juga tidak bermoral. Apalagi kalau ditambah hentaman tangan di kepala. Gila, sakit nggak sih? Iya, ini masih lanjutan tulisan di atas. Panjang ya? Biarlah, otakku sedang minta diladeni untuk menulis tulisan yang mungkin tak akan pernah sampai ke subjek sasaran. Setidaknya aku mencoba mencapai aktualisasi diri. Berbicara tentang aktualisasi diri, dirimu dan dirinya, termasuk diriku punya cara masing-masing. Mungkin memang ada orang yang akan mencapai aktualisasi dirinya saat bangku yang dilempar mengenai sasarannya. Ya mana ku tahu juga.

Ah begitulah, malu sebenarnya ini sudah kali kedua kita lempar-lempar bangku di lingkungan kampus. Mending kita naik sepeda saja dan coba-coba gaya baru. Siapa tahu kita akan terjatuh lagi, lagi, dan lagi sampai kita jadi pengoleksi luka dan koreng. Setidaknya bisa dijadikan pelajaran untuk diri sendiri dan berpotensi mencelakai diri sendiri. Biar kita tahu rasa sakit. Biar kita belajar. Siapa tahu harusnya kita jadi atlet saja, atlet mountbiking mungkin. Jangan lempar bangku lagi, sudah dua kali, dan ke depannya tidak ada manfaat. Eh, atau mungkin kamu mau mengadakan kontes lempar bangku tingkat internasional? Bolehlah latihan dari sekarang. Lempar saja sekalian bangku kuliahmu. Semoga sukses.

Untuk kamu yang begitu gemar mencelakai orang lain, ku doakan semoga jodohmu adalah orang yang gemar mencintai. Yang bisa mengajakmu untuk turut mencintai dan tidak menodai rohanimu, nuranimu, dan orang lain. Ceritakan padaku bagaimana peliknya hidupmu kini dan nanti. Kudoakan juga kamu selalu dalam keadaan sehat, sehat akal dan badan.

Bonus foto Ghazi yang luka di jidatnya hampir mengering bersama kakaknya yang sedang cari alasan untuk tetap berbangga menjadi mahasiswa,
Afi Wiyono


                        


P.s. (*) kata melempar bangku sebenarnya hanya simbol dari kekerasan. Soalnya bangku keras sih. Lagipula memang ada bangku yang melayang juga di kampusku. Entahlah karena memang diciptakan bisa terbang atau memang dilempar. Kasihan kampusku. Lempar bangku sembunyi tangan. Uhuk. 

P.s. Lagi. Jangan bikin orang lain jadi pengoleksi koreng karena ulahmu ah. Biarkan dia buat sendiri korengnya, biar belajar. Oh iya, tengok hati kita yuk, kali saja banyak korengnya.
HayahAfifah | 2008-2017