May 12, 2015

Dua Sabtu, Satu Senin

Selesai bertugas.
Hari ini rasanya pendek, singkat. Mungkin karena saya sibuk atau karena saya banyak melamun. Salah deng. Saya sangat sibuk hari ini. Alhamdulillah masih punya jatah absen di kelas Mikrobiologi Pangan dan Kimia Fisika. Alhasil dua pekan ini menikmati padatnya kereta Jakarta pada Senin pagi dan sore. Terima kasih kepada teman yang sempat mencegah saya ambil jatah absen pada minggu-minggu awal semester 4. Katanya, barangkali simpanan saya bermanfaat nantinya. Dan voila, dia benar.

Dua pekan ini saya menikmati hidup. Menikmati rasanya meninggalkan rutinitas. Menikmati omelan banyak orang. Menikmati kereta. Kereta lagi, lagi, dan lagi. Saya akan sebut kata kereta terus menerus sampai kamu bosan dan meninggalkan laman ini.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta,
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta,
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta,
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta,
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta,
Kereta.

Kereta.

Nggak deng.

Dua Sabtu saya dapat ilmu dan dapat lelah. Dapat banyak cerita pula dari om om iconic dalam dunia perbulutangkisan. Siapa coba? Iya, Om Broto Happy kebanggaan kita semua. Sesuai namanya, Om Broto memang bahagia dan membahagiakan. Nama memang doa sih. Lihat saja nanti doa yang akan saya bubuhi pada nama anak saya. Nggak nyambung ya.

Om Broto cerita banyak tentang bulutangkis karena yang saya ikuti memang pelatihan jurnalistik bulutangkis. Kalau ditanya tentang hal lain, saya yakin Om Broto juga tahu banyak. Mulai dari asal usul nama bulutangkis, souvenir khas Indonesia yang bisa diterima oleh petugas bandara di Madrid, sampai restoran penjual torpedo banteng di dekat tempat matador berlaga. Sumpah, semuanya disampaikan sambil ketawa walaupun kami pegal harus berdiri terus dari Stasiun Tanah Abang sampai stasiun tujuan. Meski begitu setiap aral melintang akan kami lewati dengan kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Kereta.
Ha ha.



Tulisan ini ditulis di dekat lapangan 4 Djarum Sirkuit Nasional Jakarta 2015 untuk kemudian diposting saat ada koneksi wi-fi.

Demikian.
Salam hangat,
Afi Wiyono




P.s masih malas pulang untuk kembali bertemu dengan dua laporan Kimia dan Biokimia Pangan.
HayahAfifah | 2008-2017