Jan 25, 2016

Tentang Menang


Tulisan ini tentang menang. Kalah bukan pilihan, tuturmu dalam tiap gerak-gerik yang mengusik orang lain. Egois sekali, kataku menutur pada lembar pucat malam itu. Jijik aku lihat prilakumu. Malam itu rasanya panjang sekali karena aku dipaksamu menutupnya hingga detik terakhir tanggal itu. Berisik kita dengan pikiran masing-masing. Mual. Argumen kita didorong logika masing-masing. 

Memangnya ada yang salah dalam kemenangan?
Kamu salah. Salahmu besar. Tidak impas rasanya kalau kamu harus menang dengan culasmu. Rasa tak acuhmu sudah rugikan aku, dia, dia yang satunya, dia yang lain, dan dia yang lainnya. Besar bukan?

Aku selesai. 
Selesai karena kupikir kamu mengerti betul aku yang sewajarnya menang. Aku tidak punya target jadi pemenang. Namun, kurang jelaskah?

Kamu memulai.

Aku salah, katamu. Salahku sejajar, besarnya setara denganmu. ((Saat itu juga aku merasa kamu berhati besar. "Sejajar denganmu")). Aku salah karena tidak beritikad baik sejak awal untuk membuat kita semua mendapatkan haknya. Hanya kamu yang dirugikan, katamu. Aku, dia, dia yang satunya, dia yang lain, dan dia yang lainnya untung sendiri. ((Untung bersama, Bodoh. Jelas sekali jumlah kami jamak)).

Larut malam aku mencari alasan. Alasan, bukan bualan.

Aku perjuangkan banyak hak di sini. Kamu perjuangkan hakmu. Seorang. Menjijikan!
Sejijik itu hingga ingin kulontarkan kata kotor sekeras-kerasnya. Sayang sekali, jarak kita terlalu jauh untukmu dapat mendengarku. Akhirnya untaian kata tak bermakna baik itu teralun indah dalam harmoni diamku. Diamku jorok saat itu.

Mengalahlah! Mohonku dalam percakapan paling menyedihkan yang pernah kita lakukan. Belum puas rupanya, kita mengulang kembali kata kunci demi memunculkan kesan utama dalam pendapat masing-masing.

Lagi.
Lagi.
Lagi.
Lagi.
Lagi.
Lagi.

Hingga aku menyerah karena lelah.
Tandai ini, aku menutup percakapan untuk malam itu karena aku lelah dan aku harus mengistirahatkan raga. Tandai ini, aku belum kalah dalam perebutan entah apa namanya.

Kamu diam.
Aku diam.
Kamu entah berbuat apa.
Aku berpikir lagi.

Kenapa aku belum kalah? Memangnya aku ingin menang? Egois sekali, kataku. 

Memangnya ada yang salah dalam kemenangan?

Jijik sekali aku malam itu. Padamu, juga padaku. Jijik!
Manusia memang kotor.


Ditulis dalam bus menuju Surabaya. Perjalanan panjang ini membuatku berpikir lebih.
Maaf ya. Siang ini, kamu kembali memulai percakapan. Kamu mengalah. Aku rasa aku menang. Aku balas percakapan itu. Kamu membalas juga. Tutur itu. Tutur yang menandai bahwa kamu mengalah dan kamu menang.

Sialan. Kita tetap kotor.

Bersiap untuk berbenah diri,
Afi Wiyono
HayahAfifah | 2008-2017