Feb 2, 2016

Manusia Suka Menang

Suatu saat, aku sedang rehat dari sebuah perhelatan. Padanya, dijanjikan sebuah hadiah. Sebuah trofi angkuh terpampang pada etalase yang elegan di lokasi akhir rangkaian lomba. Sinarnya mengalami refleksi dan menyilaukan mataku. Aku masih jauh, bisa dikata. Kadang, halusinasi dicampur fatamorgana buat ku terhibur karena merasa dijanjikan dekat dengan trofi. Ah, ilusi.

Rehat inilah yang kugunakan dengan sebaik-baiknya. Kuambil kipas tangan dan kukibaskan pada diriku. Kuambil air minum dan kuteguk hingga habis. Padahal ini bukan lomba lari, tapi lelahnya seakan susah diakhiri. Bisa mati aku kalau mentalku dibobol habis. Sorak sorai terdengar dari arah belakang.

Kenal.
Aku kenal mereka. Kulambaikan tangan.
Beberapa dari mereka berlari, yang lainnya main catur.
Ada pula yang sok jago main anggar sambil teriak-teriak histeris menggertak lawan.
Ada yang sibuk membaca buku dan tidak terganggu sedikitpun. Dia mengibas rambut sesekali. Angin memang kencang.
Ada yang sibuk berorasi tentang pribadinya seperti menjual diri.
Ada yang diam saja dengan tatapan kosong.
Bahkan, ada yang sedang bermesraan dengan trofi berwarna perak.
Ramai sekali sekelilingku.

Aku masih lelah. Kuhampiri salah seorang yang terlihat lowong. Kami bercengkrama. Tertawa terbahak-bahak hingga hampir tersedak. Masing-masing mendadar diri satu sama lain tanpa luput menutupi beberapa bagian. Cerita punya cerita, si dia juga sedang rehat di pertengahan rangkaian lomba.Tawa kami mengundang perhatian.

Seseorang menghampiri kami sambil membopong trofi yang dibalut bungkus coklat. Kenapa pula dibungkus, aku tak peduli. Yang jelas warna aslinya jadi tidak kelihatan. Pun label perlombaannya. Pun keterangan juaranya. Sesuatu yang pasti, aku tidak berkawan berlandaskan trofi. Jadi, kami mulai mendadar diri kembali.

Rehatku menyenangkan. Rasa senangnya membuatku puas pada titik ini. Bukannya aku lupa akan trofi yang angkuh itu. Ingatanku akan sinarnya sulit dilupakan dan diuapkan pada terik siang itu. Agaknya, aku memang lebih suka merasa cukup dibanding berkompetisi lebih lanjut. Ah, aku paham kok pada akhirnya harus berjuang lagi. Iya, tidak usah bercicitcuit berulang kali mengingatkan.

Tiga orang kini masih rehat, tidak ingin memenangkan apa pun.

Hari berganti.
Berganti lagi, lagi, dan lagi. Aku masih tertawa dan malah lelah karena rehat. Rehatku bukan berarti diam di tempat. Beberapa kali tiga orang ini berkeliling menyaksikan peristiwa yang kadang masuk di akal kadang tidak berakal. Sampai pada suatu lokasi, aku teringat akan keharusan mendapat trofi dengan label tertentu. Pun aku ingat sebuah trofi terletak di salah satu sudut

Inisiatif, aku menghilang sejenak untuk memastikan trofi itu memang ada di lokasi ini. Lalu, entah mengapa aku merasa peluangku besar untuk bisa memenanginya. Sialan, aku takut ini hanya ilusi.

Tak berapa lama setelah berniat memastikan, ada sinar yang menyilaukan berhasil menghentikan langkahku. Aku takjub. Dilihat lebih dekat tiap lekuk trofi membuatku ingin memegangnya. Lebih dari itu, memilikinya secara utuh.

Lalu, kurasakan jarak yang tersusun dari berbagai alasan mulai membentang. Membuatku semakin sulit meraihnya. Kucoba menggapainya, namun alasan mendasar berwujud gelombang membuatku tersapu agak jauh. Makin kuat, makin kuat, aku makin berjarak. Sinarnya semakin menggiurkan.

Lalu, dua orang yang sebelumnya rehat memanggilku. Menyadarkanku untuk melanjutkan perjalanan. Sekejap, aku bersiap kembali berpetualang. Diam-diam aku mengincar trofi yang sulit dijangkau tadi. Dalam benakku, kususun berbagai strategi.

Di tengah jalan, seseorang ribut dengan pikirannya. Orang yang tidak asing bagiku. Berisik! Ingin kumarahai ia karena suara batinnya berpencar dan bising memekakkan telingaku. Herannya, hanya aku yang dapat mendengar harmoni pikirannya yang porak poranda. Dalam kekalutan pikirannya, sebaris harapannya terdengar. Dia ingin trofi yang sama denganku. Sialan.

Sigap disertai takut, kuatur napasku. Aku ingin memulai perlombaan, pertarungan, kompetisi, atau apa pun itu. Aku mau menang.

Saat itu pula, kurasakan bahwa aku terdiskualifikasi dari perlombaan yang sebelumnya aku tunda. Bukan masalah, aku memang jemu padanya. Semudah itu aku berpaling.

Kepada trofi,
Aku minta maaf karena membendakanmu meski aku sadar kita memang bukan benda.

Afi Wiyono

HayahAfifah | 2008-2017