May 5, 2016

Mulai Lagi?

Menulis secara dadakan pada pukul empat pagi memang tidak perlu dipertanyakan atas motif apa. Bagi saya ini wujud nyata untuk bilang ke diri sendiri bahwa saya masih suka menulis. Seharusnya rasa suka itu tidak hilang maupun dihilangkan karena semata-mata ada kesan buruk yang membuat ingin berhenti. Toh, pada kenyataannya tidak ada kesan buruk. Jadi, mengapa tidak menulis lagi?

Pada pukul tiga--bila digenapkan--saya terbangun. Seketika saya tidak ingin kembali tidur. Saya putuskan untuk membaca. Entah ada impuls darimana saya tergerak sekali untuk membuka situs yang menjadi wadah informasi mengenai sains dan teknologi. Bukan, bukan National Geographic. Bukan juga I Fucking Love Science, apalagi Foodtastic.id yang tentunya belum rilis. Yang saya buka merupakan portal asli Indonesia. Faktor terbesar yang berhasil membuat saya menggebu ingin kembali menulis sesuatu yang lebih besar dari sekadar remeh temeh tentang gaya hidup maupun keluhan atas gaya hidup sendiri.

Bisa jadi impuls yang ada diakibatkan oleh stimulus berupa hasil bincang-bincang saya dengan ex pemimpin redaksi pers kampus yang saya kenal pada malam sebelumnya. Kami bercakap sedikit tentang pengalamannya tentang menulis artikel-artikel ilmiah populer yang selalu saya pandang sebagai hal yang menggairahkan. Tulisan ilmiah populer itu seksi. Iya, begitulah, biar hiperbola.  Tulisan ilmiah populer selalu menyadarkan saya bahwa masih ada harapan untuk ke-kurang-maju-an negeri yang saya tempati ini.

Oke, saya sadar betapa sombongnya diri ini karena sempat mendeklarasikan bahwa ia tidak suka, ia masa bodoh perihal negara. Saya berdalih bahwa negara ini hanya kedok bagi mereka yang ingin memperluas ego. Sempit sekali pandangan ini. Terlalu sesak dengan ego sendiri tanpa luput menyalahkan ego orang. 

Film Kung Fu Panda 2 yang mengalir pada benang merah tentang kemampuan Po menemukan inner peace yang saya tonton tadi malam sepertinya juga ditakdirkan menjadi stimulus. Selesaikan semua keinginan menyalahkan faktor luar diri. Yang bisa dikendalikan adalah diri sendiri, beserta ego, kenihilan  untuk berbuat baik, dan lainnya. Saya pernah berdamai dengan diri sendiri. Lupa. Alasan apa yang saya utarakan hingga menyatakan perang dengan diri sendiri.

Pada intinya, saya resah lagi. Saya senang. Saya hidup. Saya menemukan suatu alasan untuk berbuat. Saya dapat impuls, semoga menjadi momentum. Omong-omong, saya lupa sekali apa hubungan empiris antara impuls dan momentum, yang pasti keduanya ada di chapter yang sama saat saya belajar Fisika kelas 11. Saya tidak remedial saat kedunya menjadi materi ulangan harian. Saya sempat mengerti. Ya sudah, bagian ini sama sekali bisa diabaikan.

Kembali lagi ke pertanyaan di paragraf satu: jadi, mengapa tidak menulis lagi?
Jawabannya, saya tidak membaca. Baik tulisan yang menggerakkan, maupun alam sekitar.


Mencoba mengarahkan diri lagi,
Mencoba berkarya lagi,
Mencoba tetap mencari impuls baik,
Afi Wiyono.



P.s. Kamu yang membaca ini boleh nyinyir, boleh tepuk tangan tanpa faedah, tapi lebih diharapkan untuk mendoakan.
HayahAfifah | 2008-2017