Oct 5, 2016

Tulisan pada Lembar Kedua Setelah Halaman Sampul Buku Itu

Pada lembar kedua setelah halaman sampul buku itu, kamu menulis harapan. Aku bergegas mengucap kata agar ia dikabulkan. Dia ada di dua kalimat terakhir. Aku tahu tulisanmu jelek. Entah bagaimana niatmu saat menggores pena untuk setiap hurufnya.

Pada lembar kedua setelah halaman sampul buku itu, kamu rupanya tidak menulis janji. Aku bergegas membaca ulang setiap kata yang ada usai pembacaan pertama. Apa yang tersirat padanya mungkin memang aku yang mengonstruksi. Sampai-sampai aku anggap kamu berjanji.

Pada lembar kedua setelah halaman sampul buku itu, masih ada tulisanmu. Aku membaca perlahan, seksama. Kata per kata rasanya ringan. Mungkin kosong sama sekali. Ada harapan dariku saat membaca harapan darimu. Dibanding buruknya bentuk tiap aksara, yang lebih buruk ialah harapanku.

.
.
Kita tidak pernah berjanji untuk bertemu. Pada buku, pada waktu, maupun pada tempat tertentu. Beri tahu aku siapa yang bersiasi, siapa yang memanipulasi. Aku siap menjadi mengerti.

Sedang kabur,
Habis mencuri payung orang,
Eh, aku berjanji akan meletakkan di tempat semula besok,
Bukan pencuri,
Mau menagih janji,
Eh, siapa memangnya yang berjanji?
Aku kali.

Afi Wiyono.

HayahAfifah | 2008-2017