Jul 13, 2017

Menjadi Dewasa

Sejak tadi malam saya menyatakan perang dengan si Kucing. Meski nyatanya saya malah mengelus si Kucing lantaran tidak sengaja ketendang.

"Oh, gitu? Udah dua kali ya! Total 2 kepala, 2 badan, ya!"

"Keluar ih!"

"Jahat banget!"

"Capek ngerti nggak sih?! Nggak?!"

"Tega! Kenapa sih?!"

Tensi saya naik, absolut. Ya, ada bagusnya juga kali setelah itu mungkin saya jadi mumpuni untuk jadi pendonor darah.

Kemarin adalah hari pertama si Kucing dan 4 anaknya tidur di luar rumah. Keluarga saya sedang membentuk semacam konvensi soal tempat tinggal kucing. Kita sebagai manusia punya otoritas di rumah.

"Kucing dan keluarga silakan di luar"

Saya baru tahu kalau manusia seperti saya bisa menangis sebab ikan dan kukusannya yang jatuh berantakan karena kucing.

Manusia seperti saya juga bisa menangis karena anak kucing pipis di serokan sampah.

Apalagi kalau dia buang hajat sembarangan, tidak di pasir. Manusia seperti saya mudah menangis karenanya.

Manusia seperti saya bisa menangis saat membersihkan air tumpahan dari kukusan yang bau amis sangat. Bahkan saat hanya disuruh membersihkan kotoran kucing di serokan sampah.

Manusia seperti saya: seperti itu.

Lain hal, manusia seperti saya menangis setelah mendengar melodi sedih sembari memberi tahu temannya.

Juga saat pertemuan keluarga hanya karena nama kakeknya yang sudah lebih dahulu pergi disebut.

Orang seperti saya: seperti itu.

"Pernah berpikir apa artinya?"
"Aku tidak dewasa sama sekali"
"Lainnya?"
"Aku payah 100%"
"Dihitung berdasarkan apa?"
"Keinginan untuk tidak menyelesaikan semuanya"
"Selamat datang di zona lain, Sayang"
"Apa?"
"Kamu bagus merasa tidak dewasa. Itu bentuk kedewasaan poin pendahuluan"
"Ini baru garis start?"
"Baru kucing, Sayang. Belum anakmu"
"Anakku bukan kucing!!"
"HAHAHAHA. Belum pernah punya anak sih, ya? Selamat direnungkan"
"Eh?"
.
.
.
Lalu saya dijelaskan kemungkinan-kemungkinan yang bisa diyakini soal kehadiran si Kucing dan segala hal menyebalkan yang ia sebabkan. Dia dikirim untuk dijadikan pelajaran. Layaknya subjek lain.

***
"Bersihin tuh eek kucing! HAHAHAHA" ujar kakak yang lari dari tanggung jawab merawat kucing yang didaulat menjadi peliharaannya. Sial kamu.

p.s. Aku sekarang punya motivasi lain untuk rajin berolahraga. Semoga tidak darah rendah! Sebel. Gagal jadi pendonor di kala genting hanya karena darah rendah.

p.s. lagi. Selamat ada di zona lain dan level lain, teman-teman! Semoga mana pun jalan yang ditempuh, kita sama-sama berproses dan berprogres karena kita tahu kita harus. Karena Tuhan menilainya. Karena kita sama-sama yakin, kita sedang dalam ujian.

HayahAfifah | 2008-2017