May 14, 2014

Kamu di Pihak Siapa?

14 Mei 2014, Kawan.
Saya sudah kembali ke Cibubur dan kembali bermanja-manja dengan kasur di kamar ibunda. Dua hari lalu, 12 Mei 2014, lalu lintas di linimasa twitter saya sesak dengan peringatan 16 tahun hari bersejarah bagi Indonesia. Tragedi Trisakti. Memuncaknya kemarahan mahasiswa--yang katanya, ah entahlah, perlambangan rakyat Indonesia--karena penembakan membabi buta yang menewaskan empat sobat mereka, mahasiswa Trisakti.

Saya sempat tahu nama keempat mahasiswa itu. Dulu, Pak Cahyo, guru Sejarah yang paling saya cintai, menekankan materi tersebut untuk 'dihafal mati' karena pasti keluar di soal ulangan harian. Duh, rindu Pak Cahyo. Kembali ke tragedi Trisakti, Pak Cahyo juga demonstran, katanya. Saya rasa pengalaman beliau sangat mengesankan. Begitu beliau memulai kisahnya, saya berhenti bercanda dengan teman sebangku saya saat itu. "Bapak udah siap tanggal 12 Mei, keluar dari kampus, lalu Bapak sampai Monas. Tapi nggak ada siapa-siapa"

..........

Duh, belum ada internet sih ya. Ponsel juga masih barang tersier saat itu. Jadi, saya memaklumi Pak Cahyo yang kurang mampu mengakses informasi bahwa lokasi demonstrasi tidak jadi di Monas. Tidak apa, Pak pada akhirnya Soeharto juga turun kok, walau Bapak tidak jadi hadir. Sungguh, mengesankan. Kangen Pak Cahyo!

Sekarang saya sedang menyaksikan Elegi Reformasi, episode Mata Najwa pekan ini. Sedari pukul 6 tadi saya sudah menyetel televisi ke channel milik Surya Paloh ini. Sembari menanti, saya menikmati buku Bintang Minahasa terbitan Balai Pustaka yang mengisahkan Pingkan dan kekasihnya, Matindas. Oke, sungguh di luar topik.

Lanjut.

Episode Elegi Reformasi menghadirkan mantan ketua Forkot Adian Napitupulu, mantan ketua KAMMI yang tidak perlu disebut namanya, juga Fadli Zon. Saya nggak mau muluk-muluk menyoal siapa mereka dulu dan siapa mereka sekarang. Jelasnya, ada hal-hal yang baru saja membuat saya 'ngeh' bahwa sejarah yang saya pelajari selama ini--yang tokohnya, alur ceritanya, latar tempatnya, disampaikan oleh Pak Cahyo dan dijadikan materi ujian--adalah sebuah generalisasi cerita. Semacam opini publik.

Entah, saya pikir orang-orang yang dihadirkan di episode ini akan mendeskripsikan hal yang sejalan. Kisah para mahasiswa alias demonstran yang idealis dan geram akan rezime Pak Harto yang berhasil mendesak keadaan hingga akhirnya Orde Baru runtuh. Kisah itu merupakan salah satu dari banyak kisah yang telah membentuk pola pikir saya akan ke-'wah'-an mahasiswa. Namun sayang sekali, Elegi Reformasi saya nilai tidak elegan.

Tidak elegan karena rupanya, ternyata, dan sayangnya saya baru menyadari bahwa kepentingan golongan memang sudah ada di atas kepentingan 'bersama' sedari dulu. It's such a fundamental human's orgy. Sedari dulu kita sudah berpolitik, Sayang. Sedari dulu memang tidak ada yang benar-benar peduli akan bangsa ini. Mengapa selama ini saya terlalu merasa kalau dulu, tak terlalu dahulu, pernah ada golongan yang mau negara ini sentosa dengan dalih demokrasi? Tidak begitu, sayang.

Mahasiswa pada zaman itu pun mewakili golongan.
Ditampilkan di episode Elegi Reformasi, Adian mewakili Forkot bersikeras pada kesalahan Prabowo si pelaku penculikan aktivis-aktivis termasuk Wiji Tukul. Lalu, Fadli Zon, yang dulunya bergerak 'bersama' Adian namun menghentikan aksi massanya 5 tahun lebih awal karena preferensinya untuk menggeluti Think Tank dan mengakomodasi diskusi antara warga sipil dan militer kini menjadi ketua umum partainya Pak Prabowo. Mereka berselisih. Tak setuju dengan 'sejarah' saat Orde Baru diambang nyawanya.

Dan sekali lagi, sayangnya saya baru sadar bahwa 'sejarah' tak hanya satu alur, Sayangku. Banyak sekali kisah yang terjadi bersamaan dengan berbagai tujuan. Busuk sekali. Busuk. Saya pikir 'kita' pernah benar-benar tulus berbuat untuk bangsa ini.

Ini masalah kamu di pihak siapa dan ingin dapat apa.
Dan iya, semua orang pasti melakukan apa yang mereka yakini baik.
Mengapa saya baru sadar?

Sok pintar sekali bahasan malam ini.
Ah, biarkan.
Mohon pamit.

Mau berleyeh-leyeh sambil bernostalgia dengan Feisal yang tumben sekali mengirim VN dengan sangat sigap.
Ah, rindunya. Semoga semua hidup sentosa, semoga Pak Cahyo juga baik-baik saja.
Salam,
Afi.

Powered by Telkomsel BlackBerry®
HayahAfifah | 2008-2017