Aug 4, 2014

Horizons

Selamat Agustus dan mohon maaf lahir dan batin. Untuk kamu. Siapa pun.




"....Gue ke Jepang bukan untuk honeymoon sama sobat lo itu! Gue mau memperkaya diri, ikutan konferensi, dan sekalian trip. Sayangnya sobat lo itu keterima juga. Gue niatnya pergi sama temen gue yang anak HI juga, tapi belum rejeki dia pergi ke Jepang. Tau-tau malah si Bengis yang bakal pergi bareng gue! Ah kesel banget, tapi seneng juga sih yang penting gue ke Jepang!..."

"...Iya, Fak. Banyak kok acara-acara yang gratisan kalau lo mau sekalian keliling dunia. Gue kan jadi humas eksternal di organisasi gue, jadi kalau ada info-info gitu pasti masuk ke inbox gue. Lo mau nggak yang acara dari UN? Tentang perempuan gitu. Atau nanti deh kalau ada tentang pangan, lo gue infoin terus lo apply, terus lo jalan-jalan sambil belajar!.."

"...Semenjak gue masuk HI, gue jadi ngeh bahwa masalah internasional nggak ada yang mudah. Apa-apa jadi sulit. Apa lagi yang sulit, menurut ngana jadi gimana tuh, yang keliatannya gampang aja jadi sulit. Gue juga jadi ngeh kalau UN itu cuman boneka. Ambil deh contoh Israel-Palestina. Emang menurut ngana UN bisa ngapain?..."

Horizons and you

--- Regina, dancer, anak HI, on July 30.

Terima kasih, Tuhan.
Terima kasih karena sudah mengirimkan makhluk-makhluk yang membawa cakrawala ke hidup saya.

Setiap doa pasti terjawab, begitu batin saya selalu merasa. Setelah suntuk karena tak banyak mendengar cerita menggugah asa di kampus sendiri, Tuhan saya mengirimkan makhluk seperti Regina ini agar kembali memupuk semangat saya.

***

Berjam-jam kita duduk, kadang berdua, kadang berempat bersama Mama dan Ayah. Suara menggelegarmu yang menutur kisah-kisah menarik seakan memecut diriku yang rasanya kok cita-citanya tidak tinggi ya. Sedih. Aku selalu ingin menjadi delegasi dalam konferensi internasional. Tapi apa? Usahanya minus. Usaha mencari informasi pun tak ada. Jangan berharap banyak dari kepayahan, Fi. Memangnya, kepayahan itu ada baiknya?

Lalu, sore itu kita melaju ke Cijantung. Di mobil, pikiranku terbang sedikit ke Eropa. Iya, karena aku yakin suatu saat waktuku pasti datang. Kamu mengoceh lagi, meledekku sesekali karena kamu pikir aku sudah punya pengisi hati. Sialan, asumsimu murah sekali. Kamu yang mau honeymoon ke Jepang kok jadi aku yang digoda??

Sampai di rumahmu yang tertutup rindangnya pohon, kita saling melambai. Aku, menunggu pesanmu, Alay. Aku mau terbang juga ke negeri orang.

***

Sebagai hadiah hari raya, saya memberi apresiasi diri saya dengan membelanjakan uang dari Mas Aria untuk tiga buku. Salah satunya bukan buku sih, majalah. Saya membeli Trobos Livestock, majalah yang dirintis oleh Bapak Wahyudi Mohtar. Sebelumnya, saya pernah membeli buku biografi jurnalis peternakan ini di sebuah toko buku bekas di daerah Kuningan yang saya kunjungi sembari menunggu hasil laboratorium Rumah Sakit MMC.


Laporan utama edisi Juli ini mengenai virus Brucellosis. Virus yang menyebabkan sapi-sapi abortus. Saya jelaskan sedikit tentang Brucellosis. Di Indonesia, virus ini sudah menyebar luas dan 2003 menjadi puncak terkenalnya. Agar tidak menyebar, test and slaughter menjadi solusi paling memungkinkan. Iya, memungkinkan agar tidak menyebar tetapi tidak memungkinkan bagi peternak atau pelaku usaha susu sapi kalau sapinya hanya sedikit. Kalau main potong begitu saja, bagaimana melanjutkan usaha?

Masuk akal sekali jika peternak lebih memilih tidak melaporkan kalau ternaknya terjangkit Brucellosis demi berlangsungnya usaha mereka. Toh, susu yang dihasilkan sapi yang terjangkit penyakit ini lebih banyak dibanding sapi sehat (jangan tanya mengapa, bukan bidang saya. Saya cuman baca di Trobos). Tapi, tetap saja yang namanya penyakit lebih banyak keburukannya. Harusnya diberantas. Ada pilihan untuk sehat kok bisa-bisanya memilih untuk sakit? Malang nian, sapi-sapiku.

Lalu, apa gunanya saya menuturkan ini semua?

"...ini peternakan, baru sebagian kecil dari pertanian. Tugasku loh, anak pertanian. Kalau anak pertanian nggak peduli, siapa yang mau peduli? anak HI? Bukan tugas Regina untuk potong sapi! Bukan tugas Regina si Anak HI untuk bergerak dalam bidang persapian, perayaman, perikanan, dan lain-lain. Terus, kamu si Anak Pertanian mau gitu jalan-jalan keluar negeri tapi sapi-sapi kamu sakit?"

Itu yang terlintas di pikiran saya. Saya tahu banget, ignorant is a bliss. It is! Setuju sekali sama orang yang menyatakan kalimat ini. Untuk apa sih saya bersusah-susah, berpayah-payah mikirin sapi? Toh, kalau saya nggak peduli, saya lebih tenang. Bukan bidang saya juga sebenernya, saya kan anak pangan. Mendingan saya mikirin jalan saya untuk keliling dunia tapi gratis. Ignorant is a bliss. Blissful? Is it blissful enough to be an ignorant ones?

***

So I got stuck. I have seem to be that person who filled with bulls so many times. Feeling like there is just so much things to do yet unreachable. Why can not I just be unwarned enough by the very so called not so common things? Perhaps, those cattle would be just fine while I am enjoying my trips to Europe. But other times, I would be crazy enough to think that I will stay and give up my life to solve the agricultural matters in my own country. Why am I so corny to decide what will I do?
Why am I so corny?
Why am I so damn corny?

Yet, still thanks so do much to my best best best buddy who is soon to fly to Japan, Regina. You are that deep-thought, open-minded, bright person. My favorite kind of people in this whole world. Thanks for bringing those brand new horizons to me! I finally, once again, got caught on something to be considered about. It is time to arrange things all over again. I love arranging not so thoughtful thoughts. Some said being nonsense is waking the brain cells. I will make it, yes. Good luck!!



But still, I will fly,
Afi Wiyono
HayahAfifah | 2008-2017