Jul 22, 2017

Aku Bicara Panjang tentang Modul dan Skala Holistik


Waktu itu Ibu pernah bilang kalau suatu saat aku harus bisa sendiri. Ibu mencoba memfasilitasi apa-apa yang kiranya perlu menjadi bekalku. Saat itu justru aku ingin dilepas segera karena semua proses ini seperti meremehkanku. Siapa sih yang bilang kalau aku butuh ditemani terus? Seperti tidak tahu saja kalau aku hebat.

Tetapi Ibuku tetap menjalani perannya dengan baik. Anak sombong tetap butuh dibina lantaran karena sombongnya itu. Ibu bilang semua orang hebat. Anak kecil bisa hebat, orang yang sudah tua juga bisa hebat. Apa yang membedakan hebatnya?

"Modul, Sayang," kata Ibu lembut.

Modul yang Ibu maksud adalah lembar-lembar berisi sebuah topik tertentu sesuai judulnya. Kerangka modul satu sama lain serupa. Ada wacana, ada rangkumannya, ada pertanyaannya. Kenapa ada pertanyaannya sih?

"Karena ini yang akan menjadi tolok ukur seberapa hebat seseorang," tutur Ibu lagi.

Kenapa harus ditanya?

"Kalau begitu, cara lain apa yang kira-kira bisa dijadikan tolok ukur menurutmu, Sayang?" tanya Ibu.

Aku malah kesal ditanya begitu. Karena aku tidak bisa jawab. Aku payah.
Eh? Aku bisa menilai diriku payah karena tidak bisa menjawab. Oh, jadi karena itu pertanyaan dijadikan tolok ukur. Ibu melihat wajahku seperti mendapatkan gagasan yang lantas membuatnya senang kalau aku mengerti.

Orang tua telah melalui masa lebih banyak dibanding anak kecil. Modulnya lebih banyak. Namun tidak berarti dia pasti dewasa. Kata Ibu, dewasa adalah predikat bagi mereka yang lolos sejumlah modul. Yang pasti banyak. Mengapa dewasa menjadi pilihan lebih baik dibanding tidak dewasa?

"Memangnya secara naluri kita tidak mau naik level, ya? Kalau Ibu sangat mau," katanya.
Kalimat pertanyaan itu hanya retorika belaka kurasa. Singkatnya, jujur saja sebagai manusia. Kita suka naik level, suka menang, dan suka nilai tinggi.

Tidak salah karena memang itu fitrah. Persoalannya, persepsi terbentuk dari banyak hal. Manusia sejak dahulu hingga kini masih suka membuat skala sendiri. Ibu bilang kalau mau menang banyak, pakai skala yang paling holistik. Manusia mana yang bisa membuat hal seperti itu?

"Sayang, kamu manusia. Ibu manusia juga. Ingat seberapa panjang kita ribut karena Ibu mau cat kamarmu oranye saja sementara kamu mau hijau? Lalu akhirnya kamarmu jadi berwarna biru. Kita sama-sama diam setelah Ayah selesai mengecatnya. Kita sama-sama punya skala dari tidak bagus sampai bagus untuk soal warna kamarmu," Ibu bertutur panjang. 

Beliau melanjutkan. "Ayah bilang warna biru cocok karena bisa menenangkan. Kamu bilang hijau bagus karena seperti kamar tokoh kartun favoritmu. Ibu bilang oranye bagus karena ceria namun hangat. Kita punya alasan atas pilihan kita. Siapa yang menurutmu akan bijak menghakimi siapa yang benar dan yang lain salah? Siapa orang itu yang mampu?"

Aku bingung. Bukan karena dua pertanyaan Ibu barusan. Lebih bingung karena contoh yang diambil adalah soal cat kamarku.

"Holistik, Sayang. Masalah sesederhana ini kan kenyataannya ada. Jadi, tidak apa-apa dong kalau Ibu ambil ini sebagai studi kasus?" jawab Ibu saat aku persoalkan pemilihan kasusnya.

Oh, ya. Cukup adil. Walau Ibu cukup adil untuk hal ini, bahkan bisa jadi sangat adil saat menentukan perbedaan sikap atasku dan juga kakakku karena kami memang berbeda sifat, Ibu mengakui tidak akan bisa menjadi adil untuk semua permasalahan dan pertanyaan yang mungkin aku tanyakan. Ibu bukan "orang itu". Bukan sosok yang skalanya akan holistik.

"Kamu tahu, dari soal cat kamarmu tadi, ada yang bisa kamu simpulkan tentang manusia,"

Untuk saat ini, aku simpulkan bahwa manusia itu suka abstraksi. Semua manusia. Maka, apa iya aku mau diukur dengan skala mereka?

"Bukan soal mau atau tidak mau, Sayang. Masalahnya, mereka akan menggunakan skalanya untuk menilaimu. Kamu juga akan begitu dalam menilai orang lain, sadar atau tidak sadar. Sisi baiknya, anggaplah itu bentuk kepedulian mereka karena kamu sesuatu. You matter. Namun, apa perlu hasil penilaian dari skala itu ditelan mentah-mentah atau bahkan dihiraukan sama sekali?"

Menurutku, pendapat orang lain perlu dipertimbangkan juga. Namun bagaimana aku bisa menyatakan itu baik atau buruk? Mengapa ini soal baik atau buruk lagi seperti perkara cat kamarku? Ibu, aku pusing.

"Sayang, kita patut bersyukur karena terlahir dalam keluarga yang meyakini bahwa skala holistik itu ada. Kita terbiasa diajarkan bagaimana menggunakannya. Bahwa benar atau salah, baik atau buruk yang "asli" itu ada. Kata "asli" di sini bisa kita ganti dengan kata hakiki. Pencipta skala holistik itu ada. Maka, kamu mau apa kan ini semua?"

Mengapa aku harus menelannya begitu saja?

"Ibu tidak bilang begitu, Ibu tadi bertanya. Mau diapakan?" tanya Ibu sekali lagi.

Aku merasa banyak hal janggal. Aku mau pembuktian. Kalau memang ini holistik, apa buktinya?

"Sayang, silakan saja. Ibu hanya fasilitatormu. Ini juga hanya sementara. Suatu saat kamu harus bisa sendiri. Coba, buktikan sendiri ya. Selagi Ibu menjadi fasilitatormu, coba manfaatkan. Ibu akan berusaha melakukan yang terbaik untuk menunjangmu. Ini modulmu, tentang pembuktian skala holistik dan penciptanya, coba dikerjakan dengan baik ya," ucap Ibu sambil tersenyum sangat manis.

Manusia yang punya mata teduh, hati lembut, dan senyum manis ini begitu enteng menyodorkan modulku. Apa ini artinya ia pernah mengerjakannya? Lulus kah?

"Ibu sudah selesai modul itu. Segala wacana, ringkasan, dan pertanyaan baik pilihan ganda maupun isian dan esai sudah Ibu selesaikan. Oh iya, pendidikan yang berhasil adalah yang dapat mendorong seseorang berani memiliki gagasan, terutama hasil dari informasi yang berhasil ia kumpulkan meski hanya serpihan-serpihan. Ibu rasa, setelah modul itu, Ibu sudah punya gagasannya. Salah satu hasil gagasan itu Ibu wujudkan dalam sikap membesarkanmu dan kakak-kakakmu. Termasuk dalam hal mempersilakanmu mengerjakan modul ini dengan baik,"

Aku tertegun. Modul pembuktian atas skala holistik dan penciptanya bisa membuat Ibu punya gagasan soal apa pun termasuk hal kecil, salah satunya bertutur kata baik di saat aku punya jiwa ingin melawan. Termasuk tetap senyum di saat argumennya diragukan. Termasuk tetap lembut dalam menjadi fasilitatorku meski aku sombong beberapa kali.

Sungguh menyeluruh. Oh, ini yang namanya holistik?
Ibuku lulus. Ia menyimpulkan bahwa skala holistik ini valid.


****
Kepada manusia paling cantik yang pernah aku saksikan,
Kepada manusia paling lembut, sabar, dan penyayang yang pernah aku saksikan,
Kepada makhluk pencipta skala holistik yang lulus modul dengan baik,
Kepada fasilitator terbaikku,

Sungguh, engkau layak diganjar hal terbaik sebagai balasan semua kebaikanmu. Terima kasih banyak karena sudah mengerti benar soal menjadi fasilitator, sebagai sekolah utama bagi anak-anakmu, dan sebagai tukang kampanye kebaikan hakiki. Terima kasih telah menunjukkan bahwa kita makhluk dan kita menghamba. Bahwa hamba tidak diperkenankan menjadi hakim bagi hamba lainnya. Semoga si-pencipta-skala-holistik-yang-hakiki senantiasa melindungimu dengan cintaNya dan melingkupi dirimu dengan rahmatNya.

Aku sayang Mama,
Hayah.
HayahAfifah | 2008-2017