Jul 28, 2017

Tentang Hal yang Bikin Pesimis

Kemarin aku disuguhkan sebuah dunia yang menimbulkan banyak prasangka. Gerai-gerai masih tutup karena aku datang pukul sembilan lewat. Banyak pintu di sana, tetapi masih terkunci. Alih-alih hanya ada satu atau dua yang terbuka dan dijaga ketat.

Lorong masih gelap, namun kilap dari barang seharga puluhan juta menyilaukan sepanjang jalanku. Bukan hanya yang berwarna emas yang menyilaukan. Pada suatu titik di tengah ruangan di ujung lorong, lantai bersih dengan corak geometris juga memantulkan cahaya. Tidak jauh dari sana, seorang laki-laki dengan perabot pembersihnya melangsungkan pekerjaannya.

Salah satu subjek yang pantas mendapat banyak ucapan terima kasih karena selalu datang sangat pagi atau bahkan larut malam untuk memastikan lantai yang dipijak calon pembeli barang-barang mewah mengkilap.

Sontak aku jadi teringat obrolan malam sebelum hari kemarin. Temanku datang bertanya ke ruang obrol dunia maya.

***
"Aku dapat dosen revolusioner yang melulu bicara soal kapitalisme," ujarnya mengawali.

"Nggak ada solusi, Fi sampai dunia keburu kiamat huehehe pinter kan aku?" Tutupnya dibarengi dengan emoji meledek.

Di antara kedua ucapan itu, ada aku dan dia yang saling memberi pendapat atas kapitalisme. Sok tahu benar. Jujur, kenyataannya justru aku tidak mau tahu lebih banyak.

Dalam percakapan itu, aku mengawali dengan posisiku yang pesimis akan semua -isme, the-I-believed-man-made.

Lalu, apa batasan man-made itu? Yang bisa ditelusuri dengan jelas awal mulanya, itu man-made, bagiku. Aku juga katakan bahwa aku hanya tidak pesimis atas landasan hidupku. Apa itu menyebalkan?

"HAHA, nggak kok," ucapnya.

Dalam obrolan panjang itu, kami sepakat bahwa semua manusia terkena bias lingkungan dan apa yang berbeda karenanya, kami menghargai.

"After all, we are the products of the society, we are biased,"

Kupakai kata-kata ini untuk merenungkan lebih jauh apa yang menjadi bias di hidup Marx sehingga begitu progresif menyuarakan konsep sistem ekonominya. Dia juga hasil kebiasan.

Jadi, masih mau percaya penuh kalau yang bias-bias ini akan valid jadi jawaban semua masalah?

Kalau aku: masih pesimis.

***

Bukankah kita ditinggalkan dua perkara?

Selamat bertanggung jawab atas pilihan sendiri. Karena pada akhirnya kita bayar sendiri. Kalau mau bersama juga bisa selama belum akhir. Hehe.

Kalau aku: mau cari teman,
Afi.

HayahAfifah | 2008-2017